Keteladanan Bagian Pilar Sukses Dunia Pendidikan

Oleh: Sun’an Wahyudi, S.Pd

Berbicara mengenai era milenial maka yang muncul adalah perkembangan teknologi, globalisasi, dan maraknya kejahatan. Seiring berkembangnya zaman yang kian pesat seiring itu pula kejahatan meningkat. Jika menengok berita tentu sekian puluh peristiwa kejahatan tersaji dan terpapar nyata di layar kaca. Bukan tidak mungkin di sekitar kita juga akan terjadi hal demikian. Tentu saja yang diperlukan adalah sebuah bimbingan dan keteladanan. Teori menjadi hal yang biasa didengar dan ditelan mentah sementara teladan akan terukir kuat dalam sanubari seseorang. Inilah yang menjadi sisi penting keteladanan bila dibandingkan dengan sekadar teori.

Keteladanan bisa didapatkan dari keluarga, lingkungan, dan sekolah. Menyoal keteladanaan di sekolah guru menjadi tonggak penting dalam pemberian contoh di sekolah. Sejatinya guru yang seharusnya digugu dan ditiru tentu menjadi poin sentral di lingkungan sekolah. Apa yang dilakukan guru, diucapkan guru, dan dinasihatkan guru menjadi fokus siswa dengan demikian siswa memiliki sebuah objek manipulasi di lingkungan sekolah.

Keteladanan siswa memang paling utama di dapatkan dari guru. Namun, di balik itu semua bukan tidak mungkin apa yang dilihat oleh siswa di luar wilayah sekolah menjadi sebuah teladan juga bagi mereka. Kita ambil contoh anggota DPR yang  mengantuk saat sidang. Menteri yang terjerat kasus koruptor, bahkan Gubenur dan Bupati yang terjerat kasus hukum. Bukan tidak mungkin deretan-deretan hal tersebut menjadi teladan buruk sekarang atau nanti bagi siswa.

Dari hal-hal tersebut sebaiknya pendidikan dikembalikan pada hakikat yang seutuhnya. Menilik sejarah Ki Hajar Dewantara yang mendirikan taman siswa mempersiapkan rasa tanggung jawab bagi siswa. Nilai-nilai budaya tetap dipegang teguh sebagai pedoman bagi siswa. Pada era ini teladan juga begitu penting dalam dunia pendidikan. Tiga kalimat yang dicetuskan oleh pendiri taman siswa  yang tetap abadi hingga saat ini Ing ngarso sung tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani yang bermakna di depan memberi teladan atau contoh, di tengah memberi motivasi, dan di belakang memberi dorongan. Dari sinilah kita tahu bahwa pendidikan era itu telah menakankan keteladanan sebagai pilar.

Akhirnya bisa disimpulkan bahwa sekolah menjadi wadah pondasi karakter positif bagi siswa dengan penguatan keteladanan dari guru. Pendidikan, guru, siswa, dan keteladanan menjadi paket pending yang harus hadir bersama dan saling bersinergi. Tentu semua harus hadir dan saling menguatkan agar tidak terjadi ketimpangan antarpilar penguat pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *