KOMEN BY NETIZEN

Comment, mode on

 

“Kejujuran juga butuh keberanian”.

Itu kata mutiara yang ku dapat dari facebook seminggu yang lalu. Di posting langsung oleh GUS MUS SIMBAH KAKUNG.  Gus mus yang itu lho.

Alat penyalur keNARSISan itu terkadang juga memberi manfaat yang tak terduga-duga. Dan manfaat itu baik. Walaupun gak selalu.

Makhluk tak hidup ini kadang memberikan nasehat yang justru sering tak bisa didapat dan diresapi dari banyak makhluk berakal dan bernyawa yang menyebut dirinya manusia, makhluk tersempurna di jagad semesta di luar sana. Hem hem hem… (padahal yang posting juga manusia, ha ha ha).

Kalimat sederhana itu kemudian mendapat komentar dari berjuta-juta orang diluar sana. Ini mungkin yah yang dinamakan efek dahsyatnya hegemoni ulama sekaliber Gus Mus. Magnet alam. Semua orang bawaannya pengen nempeeeel ajah,

Berbagai komentar muncul dari berbagai fikiran, di komat-kamitkan oleh mulut, di bantu jari-jari, tercipta menjadi bukti bahwa manusia sudah masuk zaman sejarah. TULISAN. Andrea hirata menyebutnya deretan mantra ajaib kehidupan, eh bukan, deretan kata.

@Gus : “Gus napa temukan jati diri sulit banget yah, dan napa kok sulit banget jadi orang jujur . Mesti banyak musuhnya, bahkan dibenci yang lain. Apa salah jujur itu gus?

Yups, Itu komentar pertama yang muncul dari seorang di seberang pulau sate sana. Komentar standar (halah, sok banget, hohoho) Lalu, seperti telah terkoordinasi sebelumnya (terkoordinasi yach bukan terkoordinir, ingat! Gunakan bahasa Indonesia yang baek n benar), bermunculanlah komentar-komentar lanjutan.

@ Gus: Dan itulah yang memang selalu ku rasakan selama ini gus. Untuk jujur, bahkan jujur akan kehendak hati sangatlah sulit.

@Gus: Terkadang kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit, dipersulit lagi dengan kenyataan bahwa pilihan itu ternyata tidak hanya antara dua hal, tapi beberapa pilihan yang yang membingungkan hati. Contohnya saja, kita mau bilang Ngrasani itu gak boleh… gampang sebenernya, tapi masalahnya jadi agak ribet kalo yang kita hadapi adalah orang tua kita. Wah.. jadi banyak pilihan nih, berkata jujur, tawadzu’. Harus ngomong disaat yang tepat. Tanpa menyakiti. Harus tegas.@#$%&*())_#@!!! Bingung.

@ Gus: Kita memang seharusnya jujur. Terutama akan apa yang telah kita ketahui. Kenapa harus berbohong ketika kita telah mengetahui bahwa konsep tentang kebohongan itu salah. Ada yang mengatakan bahwa kebohongan itu diperbolehkan dalam keadaan2 tertentu. Atas dalil itu, pernah aku mencoba untuk melakukannya…ternyata justru hal buruk yang terjadi padaku. Yah; aku ketagihan, masalahku jadi bertambah-tambah dan aku memunculkan beberapa masalah lain dari kebohonganku tersebut.

(Ini ada lagi komentar yang gak nyambung, tapi cool BeGeTe)

@Gus :“Aq kagum ma anda” (nah lho gak nyambung).

Mereka yang hanya tahu hitam dan putih, tak mengherankan bila terkaget-kaget melihat warna-warni yang lain”. Gus mus posting. (Apa yah maksudnya, ada yang bisa mengartikan?????? Tapi walaupun ku tak mengerti, tetap saja, bagiku kata-kata jenengan terasa Full magic gus)

Dan kemudian bertubi-tubi beberapa komentar yang gak bertanggung jawah, Eh salah!, gak nyambung berdatangan.

“Assalamualaikum, minta doanya gus”. (Ya ya ya).

NB: kalau ada tanda kurung, berarti yang ada didalamnya adalah uneg-unegku saja, yang tak pernah keluar..hiks hiks.

“Gus, hukumnya poligami itu gimana?”. (Hah! Masih ajah…!)

“Allahu akbar! (^_^ ^_^ ^_^)

Bingung, mana kebenaran mana kesalahan

Kata orang, kata pak slamet, kata pak marno

Apa aku yang bodoh? Atau dibodohin? Bangsa menangis kaya bayi minta pipis

Yang mlarat meringis, yang kaya tambah bengis,

Aku ingat lagu gundul-gundul pacul..

Begitu lugu, begitu mudah ditiru…” 

(27 april jam 22:24 Ahmad zuhri)

(Heran aku sama komentar satu ini, Masak coment pake puisi?! Lagipula, apa hubungannya rakyat melarat sama gundul pacul…???? yo gitu itu puisi… gak pernah bisa dibenarkan atau disalahkan… bebas seperti pembuatnya. Up to U mau diinterpretasikan seperti apa… asal gak merugikan diri dan orang lain. He he he, enak banget jadi pengarang puisi, gak pernah salah. Ngelindur. Stop”.)

Nah, akhirnya, setelah menunggu sekian lama, inilah mungkin komentar yang paling bagus. Menurutku.

@ All : Jadi diri sendiri aja kale… nikmati hidup, gak usah terlalu mikir soal jujur gak jujur. Yang penting jangan pernah terbersit dalam hati kita untuk berbohong.

@ All :Hidup kan Panggung sandiwara, jadi kita harus jadi actor yang baik, jangan sampai salah membawa diri. Kalau mau jujur, sebenernya setiap kali temen sekamarku pake kacamata kudanya, iiiiiih, pengen tak jitak  kepalanya. Kayak hidup di zaman romusha ajah. JADUL. Kenapa gak pake kacamata kerbau ajah sekalian. Tapi, mau jujur yang gimana,.. lha wong dia emang minus, mau belikan kacamata baru juga gak mungkin. Fuihh…Akhirnya, aku cuma bisa bilang padanya “Kacamatanya siiip, di pake kalo baca ajah yach, biar awet” he he he. Gak jujur yah.. what ever lah.

(Gimana saudara-saudara. Sudah ada kejelasan? Jujur,saja,  kalau aku sih… tambah bingung. Kamu?)

Terakhir gus mus simbah kakung cuma bilang “ oke, kalian suka? Ambillah! Kalian tak suka ? tinggalkanlah! Kalian sependapat syukurlah. Tidak sependapat? Tidak apa-apa. Ku harap kita tetap berkawan. Itu saja.

Posting komentar “. I LOVE U FULL, HA HA HA…(mbah surip!!!!)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!