Model Pembelajaran Susan Loucks-Horsley

  1. Pengertian Model Pembelajaran Susan Loucks-Horsley

Model pembelajaran Susan Loucks-Horsley menurut McCormack (1992) adalah model pembelajaran yang merefleksikan keunikan kualitas sains dan teknologi secara bersamaan melalui empat tahap pembelajaran. Model Susan Loucks-Horsley dipandang merupakan model pembelajaran berorientasi kontruktivistik yang bagus. Penerapan model pembelajaran ini di sekolah dapat meningkatkan baik kemampuan pengajaran kontruktivistik maupun lima domain dalam taksonomi untuk pendidikan sains.

2. Tahapan Model Pembelajaran Susan Loucks-Horsley

Empat tahap model pembelajaran Susan Loucks-Horsley, yaitu Invited, Answer Their Own Questions, Propose Explanations and Solution, dan Taking Action.

Tahapan pertama adalah siswa diundang untuk belajar. Tahap ini dapat dilakukan melalui penyajian demonstrasi gejala-gejala aneh atau gambar yang memunculkan berbagai pertanyaan atau keheran-heranan, melalui pengalaman hands on, atau secara sederhana melalui pertanyaan-pertanyaan guru. Keingintahuan tersebut digunakan untuk meningkatkan kemelekan tentang sains. Di akhir tahap ini, siswa hendaknya memfokuskan diri pada satu atau lebih berbagai permasalahan atau pernyataan, dan merasa berkeinginan untuk menyelidiki (McCormack, 1992). Yager (1992), menambahkan bahwa strategi umum yang dapat digunakan oleh guru konstruktivisme dalam kategori invited adalah mengamati lingkungan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, memberikan pertanyaan, mempertimbangkan kemungkinan tanggapan terhadap pertanyaan, mencatat fenomena yang tak terduga, atau mengidentifikasi variasi dari persepsi siswa.

Tahap 2, kesempatan siswa untuk menjawab pertanyaan sendiri melalui observasi, pengukuran atau eksperimen. Siswa membandingkan dan menguji gagasan dan mencoba memahami data yang telah dikumpulkan. Tidak semua kelompok siswa bekerja untuk permasalahan yang sama atau mengerjakan uji eksperimental yang sama. Tidak terdapat aturan dan petunjuk guru dalam tahap ini. Saran-saran untuk “berbagai aktivitas” dapat dibuatkan guru sehingga pengalaman penting tersedia bagi semua anak di kelas. Dalam berbagai tatap muka, siswa mengeksplorasi dan mencari pemahaman secara ilmiah melalui eksperimen, dengan kata lain siswa menciptakan atau menemukan (McCormack, 1992). Yager (1992), menambahkan bahwa strategi umum yang dapat digunakan oleh guru konstruktivisme dalam kategori ini adalah memfokuskan permasalahan, bertukar pikiran alternatif, mencari informasi, melakukan percobaan dengan bahan, mengamati fenomena khusus, merancang model, mengumpulkan dan mengorganisasikan data, menerapkan strategi pemecahan masalah, memilih sumber daya yang sesuai, mendiskusikan penyelesaian dengan orang lain, merancang dan melakukan percobaan, mengevaluasi pilihan, terlibat dalam debat, mengidentifikasi risiko dan konsekuensi, mendefinisikan parameter penyelidikan, dan menganalisa data.

Tahap 3, siswa menyiapkan penjelasan dan penyelesaian, dan melaksanakan apa yang telah pelajari. Setelah memperoleh pengalaman baru dari konsep yang dipelajarinya melalui kesempatan penyajian suatu pelajaran, konsep awal tentang hal yang sama dapat dimodifikasi atau bahkan diganti dengan temuan yang baru. Guru menumbuhkan pandangan baru siswa secara verbal melalui observasi dan eksperimen. Siswa diberi kesempatan untuk mempercayai diri sendiri atau teman-teman yang konsepsinya sejalan dengan apa yang baru saja diobservasi. Yager (1992), menambahkan bahwa strategi umum yang dapat digunakan oleh guru konstruktivisme dalam kategori ini adalah mengkomunikasikan informasi dan ide-ide, menjelaskan model, membuat penjelasan baru, mereview dan mengkritik penyelesaian, memanfaatkan evaluasi dari rekan, menyusun beberapa jawaban/penyelesaian, menentukan penyelesaian yang tepat, dan menyatukan penyelesaian dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah ada.

Tahap 4, memberi kesempatan siswa untu mencari kegunaan temuan dan menerapkan apa yang telah dipelajari. Apabila pesrta didik telah menemukan, misalnya, bahwa saklar listrik bekerja melalui pemisahan antara kabel-kabel dalam suatu rangkaian, siswa dapat mendesain dan membuat saklar tipe baru dari bahan sederhana, menyurvei saklar di rumah, dan merencanakan petunjuk keselamatan sehingga pabrik dapat mencontoh atau menggunakan desain yang telah dibuat dalam saklar berbagai peralatan rumah tangga yang akan dipasarkan atau guru dapat menemukan kliping koran tentang seseorang yang telah menjadi korban aliran sumber listrik tegangan tinggi dan meminta siswa menganalisis penyebab kecelakaan dan apa peringatan yang harus disampaikan untuk melindungi orang lain dari penyebab tersebut. Yager (1992), menambahkan bahwa strategi umum yang dapat digunakan oleh guru konstruktivisme dalam kategori ini adalah mengambil keputusan, menerapkan pengetahuan dan keterampilan, mentransfer pengetahuan dan keterampilan, menyampaikan informasi dan ide-ide, mengajukan pertanyaan baru, mengembangkan produk dan menyampaikan ide-ide.

3. Keuntungan Model Pembelajaran Susan Loucks-Horsley

Menurut Kristifany dkk. (2012), beberapa keuntungan dari model pembelajaran ini adalah:

  1. Siswa dihadapkan langsung dengan objek IPA dan kegunaan-kegunaannya, hal ini dapat memberikan pandangan ataupun keyakinan siswa terhadap IPA menjadi lebih baik.
  2. Melalui perangkat yang menggunakan model pembelajaran ini, siswa juga mampu menyelesaikan masalah IPA yang ditemukannya, sehingga siswa terbiasa untuk melakukan tindakan atau pemecahan terhadap masalah ataupun objek IPA di lingkungan siswa.
  3. Siswa mengalami pembelajaran langsung dimana siswa tidak lagi hanya mendengar, namun siswa aktif dalam pembelajaran yang menarik dan mempunyai kegunaan untuk kehidupan siswa, hal ini dapat menimbulkan rasa suka terhadap IPA.

DAFTAR PUSTAKA

Kristifany, F., Prasetyo, Z. K., & Tiarani, V. A. (2012). “Pengembangan Perangkat Pembelajaran IPA Terpadu Model Susan Loucks-Horsley pada Tema “Destilasi” untuk Meningkatkan Sikap Positif Siswa terhadap IPA”. E-Journal Universitas Negeri Yogyakarta. Vol. No.1. Diakses pada tanggal 16 April 2015, dari http://journal.student.uny.ac.id/

McCormack, A. J. (1992). Science Curriculum Resource Handbook. New York: Kraus International Publications.

Yager, R. E. (Ed.). (1992). International Council of Associations for Science Education. Boulevard Arlington, North Washington: ICASE.

Oleh: Ratna Nurdiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *