Pendidikan Karakter

Pendidikan seharusnya bisa memperbaiki watak bangsa, bahkan memberikan pengalaman yang lebih baik untuk membangun suatu masyarakat yang saling menghormati. Perjalanan sejarah bangsa membuktikan bahwa pendidikan mampu memberikan pencerahan bagi watak anak bangsa. Dari anak jajahan yang terpinggirkan menjadi warga negara yang merdeka yang memiliki peranan sentral untuk mengatur dirinya sendiri. Individu yang terdidik mampu mengubah dirinya sendiri termasuk mengubah wataknya menjadi individu yang berkarakter.

Wacana pendidikan karakter belakangan ini umumnya memosisikan pendidikan karakter sebagai “jalan keluar” bagi berbagai krisis moral yang sedang melanda bangsa Indonesia. Demikianlah, orang mengusulkan pendidikan karakter untuk mencegah perilaku korupsi, praktik politik yang tidak bermoral, bisnis yang culas, penegakan hukum yang tidak adil, perilaku intoleran, dan sebagainya.

Meskipun demikian, sejauh manakah pendidikan karakter telah dipahami? Apakah pendidikan karakter sama saja dengan pendidikan moral, pendidikan agama, pendidikan budi pekerti atau pendidikan kewarganegaraan? Apakah pendidikan karakter dapat diaplikasikan tanpa pengetahuan yang memadai tentangnya? Pemikiran-pemikiran Doni Koesoema A. Dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Karakter. Strategi Pendidikan Anak Bangsa (2007) ini sangat membantu kita memahami apa itu pendidikan karakter sebelum mengaplikasikannya.

Tiga pertanyaan utama membantu kita memahami buku ini. Pertama, apa itu pendidikan karakter? Kedua, di manakah pendidikan karakter akan diaplikasikan? Ketiga, bagaimana mengevaluasi pendidikan karakter?

Pendidikan karakter adalah usaha yang dilakukan secara individu dan sosial dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan kebebasan individu itu sendiri. Pendidikan karakter harus bersifat membebaskan. Alasannya, hanya dalam kebebasannya individu “dapat menghayati kebebasannya sehingga ia dapat bertanggung jawab atas pertumbuhan dirinya sendiri sebagai pribadi dan perkembangan orang lain dalam hidup mereka”.

Pendidikan terutama merupakan usaha sadar yang ditujukan bagi pengembangan diri manusia secara integral dan utuh melalui berbagai macam dimensi yang dimilikinya (religius, moral, personal, sosial, kultural, temporal, institsional, relasional, dll) demi proses penyempurnaan dirinya secara terus menerus dalam memaknai hidup dan sejarahnya di dunia ini dalam kebersamaan dengan orang lain. Sementara, karakter merupakan ”kondisi dinamis struktur antropologis individu, yang tidak mau sekedar berhenti atas determinasi krodatinya, melainkan juga sebuah usaha hidup untuk menjadi semakin integral mengatasi determinasi alam dalam dirinya untuk proses penyempurnaan dirinya terus menerus. Kebebasan manusialah yang membuat struktur antropologis itu tidak tunduk pada hukum alam, melainkan menjadi faktor yang membantu pengembangan manusia secara integral.

Dua pemahaman ini mengantar kita pada pemahaman tentang pendidikan karakter sebagai keseluruhan dinamika reasional antar pribadi dengan berbagai macam dimensi, baik dari dalam maupun dari luar dirinya, agar pribadi itu semakin dapat menghayati kebebasannya sehingga ia dapat semakin bertanggung jawab atas pertumbuhan dirinya sendiri sebagai pribadi dan perkembangan orang lain dalam hidup mereka.

Locus educationis pendidikan karakter adalah sekolah. Semua pihak yang terlibat dalam di sekolah memikul tanggung jawab membangun pendidikan karakter. Meskipun demikian, pendidikan karakter bukanlah sebuah mata pelajaran yang harus dihafal. Pendidikan karakter merupakan keseluruhan proses pendidikan yang dialami peserta didik sebagai pengalaman pembentukan kepribadian melalui memahami dan mengalami sendiri nilai-nilai, keutamaan-keutamaan moral, nilai-nilai ideal agama, nilai-nilai moral Pancasila, dan sebagainya(Kanzaki).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!