Sejarah

SEJARAH LAHIRNYA PONDOK PESANTREN ROUDLOTUL QUR’AN (PPRQ)

1971

Abahku yang juga merupakan Pendiri Pesantren Roudlotul  Qur’an KH.MANSUR AMINUDDIN RIDLO (almarhum) seorang guru dengan status Pegawai Negeri Sipil. Di era pergolakanpolitik menjelang PEMILU 1971 dimana semua anggota PNS  Wajib hukumnya mencoblos partai GOLKAR, pula dengan abahku. Sementara kesetiaan abahku terhadap NU sangatlah kuat, ini yang menyebabkan beliau harus bersembunyi lama dari kota A ke kota B untuk menghindari Babinza,semacam polisi urusan politik. Sehingga aku yang masih berwujud bayi merah berumur sejumlah hari dan ibuku beliau tinggal, hanya komunikasi lewat surat rahasia yang beliau kirimkan melalui teman kurir rahasia yang ibu terima,juga beberapa petak sawah untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Pada posisi begini pula Bapaknya abah yang bertempat tinggal di Kudus wafat, sehingga Abahku tidak bisa mengiringi jenazah beliau karena tak terkabari.

1972

Selalu ada kejadian yang mengawali hal besar

Setelah keadaan reda, sebagai PNS abah mendapat surat tugas   berpindah ke Lamongan. Allah maha pengatur, bah disebuah Depot Soto di Pasar Lamongan bertemu dengan pemilik depot Ust. Zarkasyi (alm), beliau berkeluh kesah tentang Madrasah Ibtidaiyah  di Demangan yang dalam kondisi muridnya berkurang, beliau minta abahku untuk bisa membantu merawat madarasah ini.

Aku dan keluargaku bertempat di bilik kecil yang ‘ndompleng’ di MI tersebut, ruang tamu yang double fungsi juga untuk ruang TK, abahku juga mengajar TK. Jam10 murid TK bubar, maka meja kursi ditumpuk rapi bim salabim disulap menjadi ruang tamu. Tak ada perabot yang berarti,bahkan ibu bercerita, almaripun tak ada, sehingga piring dan pecahbelah disimpan dibawah kolong temapat tidur.

Benar,  selalu ada peristiwa yang mengawali hal besar.

MI beranjak pelan menjadi besar,yang asalnya muridnya puluhan menjadi ratusan. Ada juga pengajian ibu-ibu tiap senin bada maghrib dengan kitab Durrotun Nasihin. Ahad bada dluhur kitab Riyadlus Sholihin.

1973

Muncullah Unsur fitnah, dengki dan yang sejenisnya. Beruntung bulan-bulan sebelumnya abahku sudah mencari tanah kosong sebagai rumah yang ‘beneran’, tanah itu ditemukan di Tlogoanyar, 500m arah timur dari MI yang kami tempati saat itu. Akhirnya kami punya rumah ‘beneran’.

Abahku tetap menjalankan tugasnya sebagai guru agama di desa Pucung Tikung, 8 km arah selatan Lamongan, saat itu jarak segitu ditempuh dengan sepeda ontel adalah biasa. Abahku orang bilang adalah sosok yang mudah membantu, ramah, welcome, friendly, sehingga mudah bergaul. Di Pucung itu cocok dengan warga, sehingga beberapa orang tua menyuruh anaknya untuk ikut pulang kerumah agar diajar ngaji oleh abaku.

Oh ya, saat di Tlogoanyar ini, ibu-ibu pengajian tetap mengikuti aba mengaji Ahad siang dan Senin malam. Tiap ba’da Maghrib giliran anak-anak dan remaja mengaji Qur’an. Rumah kami tidak mencukupi menampung jama’ah, maka dibuatlah tempat jama’ah berlantai semen (rumahku masih beralas tanah), untuk anak-anak Pucung dibuatkan kamar di sisi  utara  berdinding bambu, ada 3 kamar. Berkembang datang pula santri putri yang dibuatkan di sisi selatan .

Abah mengajar santri dengan dibantu guru-guru yang kebanyakan dibawa abah dari Kudus, Demak Jawa Tengah. Semua mengaji masih sistem ngaji weton, belum klasikal. Ngaji dilakukan pada jam 14.00 karena saat itu jam 12 sudah pulang sekolah.

1980

Keadaan ini makin lama makin baik, dari segi jumlah santri dan bangunannya. Lokal yang ada tidak mencukupi,aba mencari lahan baru, alhamdulillah Allah berkehendak,ada tanah yang masih berair dijual, abahku diberi kekuatan membelinya, tanah itu dipondasi dengan besi dll yang dibeli dari uang jariah para dermawan, lokal ini yang akhirnya menjadi Komplek Rijal untuk santri laki-laki. Lama-kelamaan tanah sebelah baratnya  juga terbeli ada juga yang diwakafkan. Ngaji mulai dibedakan laki-laki dan perempuan juga tahun angkatan masuk. Aba mengajar untuk yang ngaji weton umum, seperti tafsir jalalain berlanjut tafsir munir Bada Ashar. Riyadlus sholihin Malam Rabu dll. Bada maghrib semua santri wajib mengaji Alqur’an, dibina oleh santri-santri senior yang menurut abah dianggap  fasih. Saya ingat waktu itu saya termasuk guru Qur’an, sehingga tiap lebaran saya dapat bingkisan, kadang sajadah, rukuh,kain *seneng rasanya.

Oh ya waktu itu, santri –santri mencukupi kebutuhan  makannya dengan caracmemasak sendiri, sehingga kalau pelang bulanan mereka membawa banyak barang,beras,ikan asin,bumbu-bumbu, sayur,kelapa, ketela , singkok,krupuk mentah dll.Kalau hari Ahad usai Roan pergi kepasar belanja banyak untuk masak-masak yang enak. Kalau malam saat lapar, masak lagi, nunggu masakan matang sambil membaca buku,belajar didepan kompor, karena khawatir gosong, sehingga ada dapur umumdisitu, yang berisi barisan kompor,gantungan panci wajandll, seru!!

Ditengah komplek ada sumur, saat hari Ahad libur sekolah,santri berkeliling disepan baknya mencuci baju sambil ngobro-ngobrol,ketawa-ketawa,seru!!. Oh ya saat usia SMP aku sudah bertempat tinggaldipondok, tidur dipondok,baju-baju juga dipondok,punya kelompokmasak juga.

Selanjutnya santri putri yang menempati komplek asal sekarang dinamakan komplek qodim- tidak mencukupi, maka dibeli oleh abah tanah dibarat selisih 3 rumah. Akhirnya jadilah itu komplek jadid,komplek yang baru ditempati oleh santri putri. Komplek ini diasuh oleh kakaku yang nomor dua Mas Fin *santri sekarang menyebutnya Pak Ali.

Keadaan ini berjalan hingga tahun 1992

1993

Abah wafat pada usia 63 tahun tepatnya Sabtu Kliwon 18 September 1993,Jumadil Awal 1432 H, setelah hari-hari sebelumnya keluar masuk rumah sakit  karena sakit yang diderita beliau.

Kepengasuhan pondok dipegang secara bersama oleh Ibuk Hj Ummi Sholihah yang alumnii Pesantren Tambak Beras Jombang dan putra putra beliau yang masih mukim di Lamongan. Oh ya, abah mempunyai 6 orang anak, 3 putra dan 3 putri. Yang 3 orang berada diluar Lamongan,Mas Fud diKediri,Mbak  Dur di Malang, Dek Afik di Gresik. Sedangkan 3 orang di lamongan Mas Fin, saya, Mas Faishol(alm). Allah Maha Adil ya…

1993

Mulai dikembangkan Madrasah Diniyyah Al Amin. Penataan secara sisitematis proses kegiatan belajar mengajar di pondok. Ada tingkatan kelas, ada ketentuan kitab pegangan, ada absen,jurnal, ulangan-ulangan dsb seperti sekolahbeneran. Penataan ini diambil dari pengalaman Ust Muhaimin -yang menjadi suami saya- yang pernah nyantri di Sidosermo Surabaya. Sehingga mengaji lebih terartur. Sedang kegaitan lain masih melanjutkan tradisi abah, tafsir, riyadlus sholihi, khitobah,fasholatan, diba’an, sholat tasbih dll.

Oh ya  sejak itu pula  dikarenakan sisitem di sekolah-sekolahyang pelajaran rata-rata baru pulang jam 14.00 maka kegiatan mengaji diniyyah dipindah bada isya.Juga  dulu yang makannya masak sendiri, semakin sibuk di sekolah, akhirnya makan dikelola pondok.

2006

Keadaan pondok alhamdulillah berjalan lancar, jumlah santri pada kisaran 200-300 orang. Atas saran dari teman-teman pendidik, orang tua santri, juga fatwa dari yai Lumajang dan Yai Gontor, maka didirikan lembaga formal MTs. Terpadu Roudlotul Qur’an. Tingkat MTs karena itu masuk usia baligh, usia pencarian identitas,sehingga perlu pendampingan sistem hidup dan penguatan akidah. Diberi nama Terpadu karena berpadu madrasah dan pondok,berpadu satu ilmu dan iman.berarti MTs Terpadu Roudlotul Qur’an dipanggil MASTER RQ sudah berusia satu dekade lebih.  Dengan adanya MASTER RQ ini merubah sedikit sistem lokasi, khusus anak Master dikarantina menjadi satu komplek di Jadid,karena ada program Bahasa.Sedang yang laki-laki menempati Rijal dalam satu ruang. Karena yang menjadi menu yang selalu jadi juara adalah Bahasa Arab Bahasa Inggris. Disamping ciri khas anak santri yaitu tawadlu,jujur, berakhlak karimah.

2016

Setelah dirasa cukup matang dalam pengelolaan Master RQ, dirasa penanaman akhlak, iman ubudiyah masih bisa tergoyahkan keadaan baik lingkungan maupun pergaulan, maka dirasa perlu lebih menguatkan akhlak iman ubudiyah melalui pendalaman ilmu syariat tasawuf anak-anak dalam lembaga Madrasah Aliyah Sains RQ, dipanggil MASA RQ. Di Masa RQ ini anak-anak digodok sedemikian rupa, saya istilahkan diblender, mulai dari pemampatan matpel unas,kelas Olim, jurnal ubudiyah,organisasi, try out sejakkelas Xdll, yang semoga ijtihad ini bisa menggoalkan cita-cita anak anak yang berhimmah menuntut ilmu di perguruan tinggi yang bagus, yang nota bene menjadiincaran semua makhluk kelas XII dari seluruh atnah air dari Sabang sampai Merauke. Karenanya anak-anak harus  bermodal besar, tirakat kuat, tahajud sungguh-sungguh, dluha semangat, puasa Senin Kamis dijalankan.

Dalam pesantren ada pengembangan diniyyah, santri  MASA RQ yang mumpuni dalam kitab kuningnya diwadahi dalamkelas diniyyah 3B, sehingga tahun depan bisa menduduki Tingkat Ulya. Tahun 2017/2018 semoga sudah bisa membuka tingkat Ulya. Dalam kelas Ulya ini matapelajaran hanya berfokus pada nahwu,fiqih dan ushul fiqih, diasuh oleh Yai, Ust DASUKI, Ust Kholid semuanya alumni pondok salaf ternama di Jawa Timur. Dalam kelas 3B metode pembelajarannya sudah menggunakan metode taqror- diskusi, pendalaman, semi bahsulmasail-.

Ya,memang dari perjalanan ini saya bisa menguatkan diri saat ada sebuah peristiwa saya selalu tersenyum, karena saya tinggal tunggu sebentar lagi akan ada anugrah. Selalu begitu dan begitu..

Juga memberi pelajaran bahwa seluruh dan  seluruh  penghuni alam ini bergerak, berubah dan berubah, maka jika menarik diri dengan tidak bergerak dan berubah,maka makhluk lain akan melindas kita,karena kita menyalahi sunnatullah, kodrat allah. (masykurotin)

Keluarga Ndalem di Haul 2017

error: Content is protected !!