Problematika membaca dan (Sekarang) Waktunya Meningkatkan Motivasi Membaca!

Semua orang tahu bahwa membaca merupakan kegiatan positif yang mempunyai banyak manfaat bagi yang melakukannya. Namun, kegiatan ini seolah menjadi kegiatan yang cukup membebani bagi siapa saja. Padahal membaca bukalah kegiatan fisik yang menguras tenaga seperti olahraga atau aktivitas fisik lainnya. Kita tidak membutuhkan tenaga ekstra dalam membaca sebuah buku. Kita juga tidak memerlukan waktu dan tempat khusus untuk membaca. Kapan saja dan di mana saja bisa dilakukan asalkan ada niat.

            Nah, niat ini lah yang perlu ditekankan. Kita harus mengakui bahwa niat atau motivasi dalam membuka sebuah buku masih sangat rendah. Jika kita bicara secara global di negara ini, pelaku dari aktivitas membaca ini masih sangat kurang.

            Berdasarkan hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang diterbitkan pada Selasa (3/12) untuk kategori kemampuan membaca, sains, dan matematika, skor Indonesia tergolong rendah karena berada di urutan ke-74 dari 79 negara.

Hal yang cukup memalukan bukan?

            Survei yang dilakukanj PISA tersebutsenada dengandata yang dimiliki oleh UNESCO. Penelitian dilakukan organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan PBB pada 2016 tersebut menunjukkan bahwa dari 61 negara di dunia menunjukkan kebiasaan membaca di Indonesia tergolong sangat rendah.

Lalu bagaimana kita mengubahnya?

Jujur saja terlalu sulit jika kita mau memperbaiki dua data yang diuraikan di atas. Namun, itu tak lantas menjadikan kita berdiam diri. Di awal sudah kita bahas bahwa membaca adalah kegiatan positif.

Kita analogikan membaca sebagai sebuah virus. Virus itu biasanya menular pada orang yang ada di dekatnya. Lah berarti kita harus bisa menulari kebiasaan ini kepada orang di sekitar. Saya misalnya. Sebagai seorang guru, tentunya tidak mungkin menyuruh siswa membaca jika guru itu sendiri tidak melakukannya. Maka dari itu tugas menularkan aktivitas membaca ini harus mulai ditularkan meskipun dalam skala yang cukup kecil.

Tentunya masalah membaca ini tidak sampai di situ saja. Banyak siswa yang melakukan aktivitas membaca hanya karena dipaksa. Saya ulang kata yang saya pakai, dipaksa! Mereka membaca hanya karena ingin menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Jika tidak ada tugas tersebut, apa mereka akan membaca? Rasanya tidak.

Motivasi dalam membacalah yang harus ditingkatkan. Padangan yang semula membaca dilakukan secara terpaksa harus diubah menjadi membaca sebagai kebutuhan. Siswa yang bahan bacaannya hanya terkotakkan pada buku paket saja harus berubah menjadi lebih dinamis. mereka bisa membaca apa saja yang mereka sukai baik itu koran, majalah, buku cerita, novel, atau buku-buku lainnya.

Lantas, apakah sekarang masih ada segelintir siswa yang memiliki motivasi tinggi dalam membaca? Apakah ada siswa yang membaca tanpa disuruh?

Saya yakin dan percaya jawabannya ADA!

Cara mengetahuianya gampang. Perpustakaan sebagai bank-nya buku menjadi salah satu indikatornya. Jika seorang siswa pergi ke perpustakaan pada jam istirahat dan anggaplah ia di sana menghabiskan waktu hanya untuk membaca novel. Berarti di dalam diri siswa ini sudah terbentuk motivasi untuk membaca.

Satu lagi, dari awal fokus pembahasan pada artikel kali ini adalah mengenai aktivitas membacanya, bukan bahan bacaannya. Buku apapun yang dibaca siswa tak masalah karena  bahan bacaan yang dibaca seorang siswa akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan usia siswa tersebut. Contohnya, tidak mungkin siswa  MTs membaca buku referensi yang sama dengan siswa MA. Ini karena tingkat berpikir mereka sudah berbeda. Jadi poin yang ingin saya sampaikan adalah bukan tentang apa yang kita baca, tetapi tentang mau atau tidak kita membaca.   

Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, dan memahami makna bacaan (Tarigan, 2008: 9). Berdasarkan pernyataan Tarigan tersebut, kita mengetahui bahwa apapun yang dibaca sebenarnya memiliki tujuan yang sama yakni memberi informasi. Tinggal informasi apa yang kita inginkan.

Semakin banyak informasi yang diinginkan, akan semakin banyak pula buku yang dibaca. Semakin banyak buku yang dibaca akan membuat kemampuan literasi Indonesia meningkat sedikit demi sedikit. Untuk itu, mari kita membaca buku apapun yang kita sukai. Tularkan kebiasaan membaca ini pada orang-orang sekitar. Tingkatkan motivasi membaca dalam diri sekarang juga. Salam literasi!

Roziq F. Husain

Guru Bahasa Indonesia Mts Terpadu Roudlotul Qur’an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!