SLEEPING SICKNESS (PENYAKIT TIDUR): BUKAN SEKEDAR PENYAKIT BIASA

Siapa yang tidak pernah tidur, Setiap manusia pasti pernah tidur. Apalagi tidur merupakan ritme harian biologis manusia. Tidur merupakan salah satu kebutuhan manusia untuk mengistirahatkan tubuh, dimana saat sel-sel tubuh beristirahat, terjadi proses regenerasi dan perbaikan sel-sel tubuh serta pembentukan energi untuk beraktifitas.

Tahukah anda bahwa tidak semua tidur itu baik, bahkan ada salah satu jenis penyakit yang disebut penyakit tidur. Bukan karena malas atau kelelahan. Penyakit tidur disini merupakan penyakit yang  menyebabkan penderitanya mengalami gangguan ritme harian tidur bahkan mengakibatkan tidur dalam jangka waktu lama (koma).

Penyakit tidur atau yang biasa disebut Sleeping Sickness atau Trypanosomiasis adalah penyakit yang  disebabkan oleh masuknya parasit yaitu Tripanosoma ke dalam tubuh manusia. Tripanosoma adalah salah satu kelompok protista mirip hewan (protozoa) yang memiliki alat gerak berupa bulu cambuk. Parasit ini hidup menumpang pada 2 jenis inang (organisme yang ditumpangi), yaitu inang tetap (manusia/vertebrata) dan inang perantara/vektor (lalat Tsetse). Tripanosoma bersifat parasit di dalam tubuh inangnya. Melalui vektor/perantara lalat Tsetse parasit ini bisa masuk ke dalam tubuh manusia atau hewan vertebrata lain.

Lalat Tsetse merupakan jenis lalat yang memiliki nama unik, serta memiliki ciri-ciri adanya moncong panjang seperti jarum di kepalanya, dan tubuh yang berwarna kemerahan. Serangga ini sebagian besar hidup di benua Afrika, terutama di Afrika Tengah. Serangga ini bersifat parasit dengan cara menghisap darah manusia atau vertebrata lainnya.

Siklus hidup dari Tripanosoma berawal dari lalat Tsetse yang menghisap darah penderita Trypanosomiasis, darah penderita mengandung Tripanosoma dan secara otomatis saat terhisap lalat, Tripanosoma akan masuk ke dalam tubuh lalat melalui darah penderita yang terhisap tadi dan hidup di kelenjar air ludah hingga masuk ke dalam tubuh lalat tersebut. Jika lalat Tsetse tersebut kembali menghisap darah manusia yang sehat maka secara otomatis pula Tripanosoma akan masuk melalui mulut penghisap lalat menuju ke dalam darah manusia tersebut.

Selanjutnya muncul gejala akibat dari masuknya Tripanosoma tersebut ke dalam darah manusia, diantaranya demam, pusing, nyeri otot, mudah letih dan penderita akan memiliki rasa bingung atau kurang fokus. Gejala ini biasanya terjadi 1-3 minggu setelah lalat menghisap darah manusia. Hal ini dikarenakan Tripanosoma menyerang sistem saraf manusia sehingga kerja tubuh pun terhambat dan dampak terburuknya adalah penderita memiliki gangguan ritme harian tidur yang cukup buruk hingga mengalami tidur dalam jangka panjang (koma) dan akhirnya bisa meninggal dunia.

Beberapa jenis Tripanosoma yang menyebabkan penyakit tidur diantaranya,  Trypanosoma brucei gambiense dan Trypanosoma brucei rhodesiense. Karena serangga ini banyak ditemukan di Afrika tengah sehingga untuk penyebaran penyakit ini sebagian besar berada di negara tersebut dan negara sekitar benua Afrika saja. Walaupun serangga ini jarang bahkan tidak ditemukan di benua lain, namun masih memungkinkan bahwa di negara atau benua lain dapat muncul penyakit serupa namun dengan jenis parasit dan vektor serangga yang berbeda misalnya penyakit Surra pada sapi atau kerbaudi Indonesia yang juga disebabkan oleh gigitan lalat penghisap darah dan mengakibatkan hewan ternak kurus dan mengalami kerusakan saraf. Sehingga tidak ada salahnya jika kita selalu waspada terhadap munculnya penyakit tersebut, diantaranya Pertama dengan selalu menjaga kebersihan, karena serangga seperti lalat dan nyamuk suka hidup ditempat yang kurang terjaga kebersihannya. Kedua jika ditemukan populasi serangga berbahaya yang menyebabkan penyakit maka perlu tindakan penyemprotan insektisida. Ketiga serangga parasit dapat dibasmi melalui penjebakan serangga dan pelepasan serangga jantan steril agar serangga betina tidak dapat menetaskan telur.

 

Semoga bermanfaat…. \\(^_^)//

 

Referensi :

Bursell, E.. 1963. “Tsetse-Fly Physiology : A Review of Recent Advances and Current Aims”. (file PDF)
Hamon, J., A. Challier, J. Mouchet, & J. Rageau. 1965. “Biology and Control of Tsetse Flies”. (file PDF)

http://www.re-tawon.com/2012/05/lalat-tsetse-sang-penyebar-penyakit.html

http://disnakkeswan.jatengprov.go.id/files/PenyakitSURRA_Trypanosomiasis.(file PDF)

 

By : @dienaahsana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!