Menyiapkan Mental Saat Memulai Pembelajaran Tatap Muka

Selamat berbahagia bagi guru ataupun siswa yang membaca tulisan ini. Telah lama pandemi ini merenggut kebebasan kita dalam menenuntut ilmu secara maksimal. Aktivitas belajar di sekolah yang lumrah kita lakukan sempat terhambat oleh pandemi yang tak diinginkan siapapun. Akibatnya, belajar seolah tak lagi berorientasi kepada ilmu yang diserap oleh siswa, tetapi hanya sekadar formalitas dalam terlaksananya kegiatan pembelajaran.

            Mari sama-sama kita jujur. Selama pandemi kita sadar bahwa pembelajaran yang kita lakukan benar-benar jauh dari harapan. Sebagai seorang guru pasti merasa ilmu yang diberikan kepada siswa tidak maksimal karena keterbatasan yang dialami. Begitu juga dengan siswa, siswa pasti merasa jika mereka tidak memperoleh ilmu yang utuh sebagaimana mestinya. Siswa malah lebih sering mengeluh dengan tugas yang didapat dibandingkan dengan bersyukur atas ilmu yang mereka dapat. Belum lagi orang tua yang mengeluh mengenai anaknya yang jarang belajar ataupun kesulitan menjadi “guru dadakan” saat anaknya meminta bantuan mengerjakan tugas.

            Seiring berjalannya waktu, pemerintah pusat dan pemerintah daerah telah mengizinkan pembelajaran tatap muka di beberapa daerah dengan zona hijau atau yang kasus covid-19 mengalami penurunan yang signifikan. Berdasarkan hal tersebut, tak berlebihan rasanya kita untuk menyambut gembira pembelajaran tatap muka yang sudah mulai dilakukan di banyak sekolah.

            Namun lamanya pandemi yang menimpa negeri ini bukanlah tanpa akibat. Mengubah pembelajaran dalam jaringan (daring)menuju pembelajaran tatap muka tak semudah membalikkan telapak tangan. Memang, jika dilihat sekilas persiapan pembelajaran tatap muka hanya berkutat pada penerapan protokol Kesehatan dan juga surat izin kepada instansi terkait. Padahal masalah yang sebenarnya bukan itu. Motivasi dua elemen penting dalam pembelajaran yakni guru dan siswa telah berubah. Beberapa siswa cenderung pasif dan tidak betah berada di sekolah karena terlalu seringnya belajar dari rumah. Guru pun rasanya enggan melakukan pembelajaran yang inovatif yang biasa dilakukan sebelum masa pandemi.

Kita semua pasti sepakat bahwa guru dan siswa adalah dua faktor yang paling penting dalam terselenggaranya sebuah pendidikan. Untuk itu, peralihan pembelajaran jarak jauh (PJJ) menuju pembelajaran tatap muka harus lebih mengedapankan kesiapan mental guru dan siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Godfrey Thomson yang menyatakan bahwa pendidikan perlu mengedepankan sisi psikologis. Psikologis dapat dikatakan sebagai faktor yang paling penting dalam proses pembelajaran. Padahal, selama ini pihak sekolah terdampak cenderung hanya mempersiapkan perizinan dan sarana protokol kesehatan saja, tapi abai terhadap kesiapan mental guru dan siswa.

            Nah, berarti solusi megenai permasalahan yang ada ialah mengubah pola pikir atau psikologi guru dan siswa. Maka dari itu, Guru tak boleh terlelap. Pandemi adalah saat untuk merenung, tetapi saat itu telah usai. Segala macam rancangan pembelajaran yang tidak bisa dilakukan saat masa pandemi harus segera dilaksanakan. Tentunya dengan cara yang menarik dan mengesankan. Begitu pula dengan siswa, motivasi mereka dalam belajar harus ditingkatkan. Anggaplah saat ini adalah lembaran baru dalam proses pembelajaran yang ada di sekolah.

            Kita harusnya berpikir bahwa melakukan pembelajaran tatap muka adalah sebuah kemewahan yang harus kita syukuri. Banyak hal yang dapat kita lakukan saat pembelajaran tatap muka namun tidak bisa kita lakukan saat pembelajaran daring. Untuk itu tidak boleh ada waktu yang disia-siakan ketika pembelajaran tatap muka. Masa-masa sulit telah terlewati, harusnya hal ini membuat siswa dan guru berbahagia.

Lamongan, 23 Oktober 2021

Roziq Fathul Husain, S.Pd.

Guru Bahasa Indonesia MTs. Terpadu Roudlotul Qur’an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *