SANTRI tanpa “ALUMNI”

Saya tetap berkeyakinan komunitas yang secara kualitas dan kuantitas melakukan ibadah mahdlah, ritual adalah Santri. Sistem di pesantren menggiring para santri untuk tiap malam melakukan qiyamul lail, sebelum berangkat sekolah berwudlu dan melanjutkan dua kali salam sholat dluha. Sholat maktubat berjamaah dengan durasi tidak kurang dari tiga puluh menit, lengkap dengan pujian sebelum jama’ah, wirid setelah salam. Tiap sebelum atau sesudah jama’ah sempatkan ‘nderes’ Al-Qur’an. Setelah Maghrib dan Shubuh pasti membaca Al-Qur’an dengan disimak guru ngaji. Belum lagi dengan ritual yang lain, puasa Senin- Kamis, puasa baidl (tanggal 13, 14, 15 bulan Hijriyah), puasa Riyadlah sepekan, dua pekan, empat puluh hari dan lain-lain.
Yaaah…demikianlah ubudiyah aqidah  santri…

Selanjutnya kita amati akhlak yang diajarkan, baik sesama makhluk maupun dengan sang Khaliq. Pembeda santri dan bukan santri yang  mencolok  adalah sikap santri pada guru, tak berani menatap, berhenti dan menunduk ketika guru berjalan melewati. Kepada yang lebih tua juga demikian. Kepada Orang tua, emak-Bapak, berbicara dengan ‘kromo’, cium tangan, pantang menghitung uang yang telah disangukan, membacakan fatihah tiap bada sholat.


Santri yang mandiri, jauh dari cemeng, manja. Karena terdidik jauh dari orang tua. Santri yang adaptif, karena terbiasa berbaur dengan banyak orang, lingkungan yang heterogen. Santri yang qona’ah karena terdidik menerima pemenuhan kebutuhan apa adanya, tidak banyak menuntut. Santri yang tradisi ta’allum  tiada tanding, belajar ataupun mengajar dimulai dari bada shubuh hingga tengah malam. Dan lain sebagainya seabreg lagi.                                        
Yaaahhhh..itulah akhlak karimah santri…

Tentang proses berdirinya NKRI, tentang Resolusi Jihad, Tentang Piagam Jakarta, tentang BPUPKI, tentang cikal bakal TNI yakni PETA, tentang pengusiran penjajah dari bumi  Jayakarta, tentang pejuang Teuku Umar,Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Sultan Agung, Sultan Hasanuddin, Sultan Ageng Tirtayasa. Yang memberikan pelajaran tentang khidmah pada negara. Tentang totalitas berjuang, tentang keikhlasan bukan penumpukan harta atau pelestarian kekuasaan untuk anak cucu, bukan tentang negara untuk muslimin saja. Tentang kecerdasan berstrategi dan tentang tanpa pamrih…
Yaaah…itulah khidmah santri…

Jadi,
Santri itu tak mengenal kata ‘mantan’, ‘alumni’, ‘bekas’.
Santri itu terkait erat dengan ubudiyah aqidah, akhlak karimah dan khidmah agama.
Mengapa, karena fakta memang memberikan coretan tentang itu.
Santri itu dimanapun, kapanpun, bagaimanapun, begitu ubudiyah aqidahnya, akhlak karimahnya dan khidmah pada negaranya..

Jadi,
Mari bersepakat santri itu hamba Allah yang mulia, berikrarlah akan istikomahkan status santri itu, berjanjilah untuk turunkan gen santri ke anak turun. Ilaa yaumil qiyaamah.

#santrisiagajiwaraga#22102021#

Penulis : Ustadzah Masykurotin Azizah, M.A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *