Lewati ke konten utama
Logo Yayasan Roudlotul Qur'an

Ada Harga Yang Harus Dibayar

Ada Harga Yang Harus Dibayar
Karya Guru Siti Mutmainah — Guru Bahasa Inggris Karya Tulis 2026 7x dilihat

TENTANG PENULIS

Penulis adalah pribadi yang senantiasa ingin belajar, berkembang, serta menjunjung tinggi nilai dan integritas. Baginya, setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan apa yang dilakukan pada akhirnya akan kembali kepada diri sendiri.

TENTANG TULISAN INI

Ada Harga yang Harus Dibayar merupakan refleksi tentang waktu, perjuangan, pengorbanan, dan pilihan hidup. Sebuah ruang untuk memahami bahwa keberhasilan bukan hanya tentang apa yang diperoleh, tetapi juga tentang nilai yang dijaga dan makna yang dibangun sepanjang perjalanan.

Selamat membaca, semoga tulisan ini memperkaya perspektif, membuka ruang refleksi, dan menghadirkan sudut pandang baru dalam memaknai kehidupan.


ADA HARGA YANG HARUS DIBAYAR

Tentang waktu yang terus berjalan, pengorbanan yang tak selalu terlihat, dan hidup yang harus diperjuangkan.

Setiap orang menginginkan sesuatu dalam hidupnya. Ada yang ingin sukses, ada yang ingin mengubah nasib, ada yang ingin membahagiakan orang tuanya, ada yang ingin membuktikan bahwa dirinya mampu, dan ada pula yang hanya ingin hidup dengan tenang tanpa terus-menerus dihantui kekhawatiran tentang masa depan.

Namun, ada satu hal yang sering kita lupakan ketika sibuk menginginkan sesuatu: setiap keinginan memiliki harga.

Kita melihat seseorang berhasil, lalu menginginkan keberhasilan yang sama. Kita melihat seseorang memiliki kehidupan yang mapan, lalu berharap bisa berada di posisi serupa. Kita mengagumi pencapaian orang lain, tetapi sering kali hanya melihat hasil akhirnya, bukan perjalanan panjang yang harus mereka lewati untuk sampai di sana.

Kita tidak melihat malam-malam yang mereka habiskan untuk belajar, kesempatan yang mereka lepaskan, kesenangan yang mereka tunda, kegagalan yang mereka sembunyikan, atau berapa kali mereka harus mengumpulkan keberanian untuk kembali mencoba setelah keadaan tidak berjalan sesuai harapan.

Kita hanya melihat hasilnya, lalu bertanya, mengapa hidup kita belum sampai di sana?

Padahal, mungkin yang berbeda bukan sekadar keberuntungan. Bisa jadi, ada keputusan-keputusan yang belum kita ambil, kebiasaan yang belum kita ubah, dan pengorbanan yang belum bersedia kita lakukan.

“Kita semua menginginkan hasil yang berbeda, tetapi tidak semua orang bersedia membayar harga yang berbeda.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup untuk membuat kita bertanya kepada diri sendiri: selama ini, apakah kita benar-benar sedang memperjuangkan sesuatu, atau hanya sibuk menginginkannya?

1. Waktu Tidak Pernah Menunggu Kita Siap

Ada satu hal yang dimiliki semua orang dengan jumlah yang sama dalam sehari, tetapi digunakan dengan cara yang berbeda: waktu.

Kita semua memiliki dua puluh empat jam. Namun, ada yang menggunakannya untuk membangun kemampuan, menyelesaikan tanggung jawab, merawat hubungan, dan mempersiapkan masa depan. Ada pula yang menghabiskannya untuk menunda pekerjaan, tenggelam dalam kesenangan sesaat, membandingkan kehidupannya dengan orang lain, atau terlalu lama memikirkan sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi.

Tentu saja, beristirahat bukanlah kesalahan. Menikmati hidup bukanlah sebuah kemunduran. Kita tetap membutuhkan waktu untuk tertawa, berkumpul dengan keluarga, menikmati hal-hal sederhana, dan memulihkan diri setelah lelah menghadapi kehidupan.

Persoalannya bukan apakah kita menghabiskan waktu untuk bersenang-senang atau bekerja keras. Persoalannya adalah apakah kita sadar dengan apa yang sedang kita lakukan dan apakah pilihan itu sejalan dengan kehidupan yang ingin kita bangun.

Seneca, filsuf Stoa Romawi, membahas persoalan waktu dan cara manusia menjalani kehidupan dalam bukunya On the Shortness of Life (De Brevitate Vitae).

“It is not that we have a short time to live, but that we waste a lot of it.”


— Seneca, On the Shortness of Life, Bab I.

Secara bebas, gagasan tersebut mengingatkan bahwa persoalannya bukan semata-mata singkatnya hidup, melainkan bagaimana waktu yang tersedia digunakan.

Kita sering berkata, “Nanti saja, masih ada waktu.”

Nanti belajar. Nanti memperbaiki diri. Nanti memulai usaha. Nanti mengejar impian. Nanti membahagiakan orang tua. Nanti memperbaiki hubungan dengan orang-orang yang kita sayangi.

Kita memperlakukan hari esok seolah-olah ia telah berjanji akan selalu tersedia.

Padahal, tidak semua kesempatan datang dua kali. Tidak semua orang akan selalu ada. Dan tidak semua hal yang kita tunda akan tetap menunggu ketika akhirnya kita siap.

“Waktu tidak pernah meminta izin ketika pergi. Ia hanya meninggalkan kita bersama hasil dari apa yang kita lakukan—atau apa yang terus kita tunda.”

Mungkin hari ini kita masih merasa memiliki banyak waktu. Namun, suatu saat kita akan menyadari bahwa yang paling banyak menghabiskan hidup bukan selalu pekerjaan yang melelahkan, melainkan kebiasaan menunda hal-hal yang sebenarnya penting.

Kita bisa kehilangan waktu karena bekerja terlalu keras, tetapi kita juga bisa kehilangan waktu karena terlalu lama tidak melakukan apa-apa.

Karena itu, sebelum mengeluh bahwa hidup belum banyak berubah, ada baiknya kita memeriksa bagaimana kita menjalani hari-hari yang kita miliki.

Sebab, masa depan tidak dibangun hanya dengan harapan. Ia dibangun melalui waktu yang digunakan dengan sadar, keputusan yang diambil dengan berani, dan tindakan yang dilakukan berulang kali.

2. Setiap Keinginan Meminta Pengorbanan

Harga tidak selalu berupa uang.

Ada impian yang harus dibayar dengan waktu tidur. Ada cita-cita yang menuntut kita belajar ketika orang lain sedang bersantai. Ada masa depan yang mengharuskan kita menahan keinginan hari ini. Ada pula perjalanan yang meminta kita menerima kegagalan, memperbaiki kesalahan, dan memulai kembali ketika semuanya terasa berantakan.

Tidak semua pengorbanan terlihat oleh orang lain. Sebagian besar justru terjadi dalam diam.

Ketika seseorang memilih belajar daripada terus bermain, ketika seseorang menyisihkan penghasilannya demi masa depan, ketika seseorang tetap mengerjakan tanggung jawab meskipun sedang tidak bersemangat, atau ketika seseorang memilih meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini memberinya kenyamanan—di situlah harga sebuah keinginan mulai dibayar.

Tidak ada yang selalu mudah dari proses itu.

Kita harus menghadapi diri sendiri, termasuk bagian dari diri kita yang senang mencari jalan pintas, menghindari kesulitan, dan menginginkan hasil cepat tanpa proses yang panjang.

Kita ingin pintar, tetapi tidak selalu mau belajar. Kita ingin berhasil, tetapi takut gagal. Kita ingin hidup mapan, tetapi enggan membangun kebiasaan yang mendukungnya. Kita ingin dihargai, tetapi terkadang belum mau meningkatkan kualitas diri.

Kita menginginkan hasil akhirnya, tetapi sering kali keberatan dengan proses yang mengantarkan kita ke sana.

Viktor E. Frankl, psikiater sekaligus penulis, membahas hubungan antara makna hidup dan perjuangan dalam bukunya Man’s Search for Meaning.

“What man actually needs is not a tensionless state but rather the striving and struggling for some goal worthy of him.”


— Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning.

Secara bebas, Frankl menggambarkan bahwa manusia tidak selalu membutuhkan kehidupan tanpa tantangan. Ada makna dalam perjuangan menuju tujuan yang memang layak diperjuangkan.

“Jangan hanya jatuh cinta pada kehidupan yang kamu impikan. Belajarlah menerima proses yang harus kamu jalani untuk mendapatkannya.”

Sebab, perjuangan bukan hanya tentang melakukan sesuatu ketika kita sedang bersemangat. Perjuangan juga tentang tetap bertanggung jawab ketika semangat itu hilang, tetap belajar ketika hasil belum terlihat, dan tetap mengevaluasi diri ketika kenyataan tidak sesuai harapan.

Namun, ada hal penting yang perlu dipahami: berkorban bukan berarti harus menderita tanpa batas.

Kita tidak harus menghancurkan kesehatan demi pekerjaan, kehilangan harga diri demi pengakuan, atau mengabaikan semua orang yang kita sayangi demi sebuah pencapaian. Tidak semua hal yang menyakitkan membuat kita berkembang. Tidak semua yang kita pertahankan layak dipertahankan.

Pengorbanan yang baik membawa kita lebih dekat pada tujuan tanpa membuat kita kehilangan hal-hal mendasar yang menjadikan kita manusia.

Karena itu, kita bukan hanya perlu bertanya, “Apa yang harus saya korbankan untuk mendapatkan ini?”

Kita juga perlu bertanya, “Apakah sesuatu yang saya kejar benar-benar sepadan dengan harga yang harus saya bayar?”

3. Harga Diri, Prinsip, dan Keberanian Mengatakan Tidak

Ada harga yang lebih mahal daripada uang, yaitu nilai diri kita sendiri.

Terkadang, untuk mendapatkan sesuatu, kita dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Kita mungkin harus menolak jalan pintas yang menjanjikan keuntungan, tetapi bertentangan dengan prinsip. Kita mungkin harus menerima bahwa tidak semua orang akan menyukai keputusan kita. Kita mungkin perlu meninggalkan lingkungan yang membuat kita nyaman, tetapi terus menjauhkan kita dari pertumbuhan.

Ada kalanya kita harus memilih antara terlihat hebat di mata orang lain dan benar-benar membangun kehidupan yang baik untuk diri sendiri.

Pilihan itu tidak selalu menyenangkan. Kita mungkin dianggap berubah, terlalu sibuk, kurang menyenangkan, atau tidak lagi mudah diajak mengikuti kebiasaan lama.

Namun, tidak semua penilaian orang harus menjadi kompas kehidupan kita.

Kita tidak bisa terus-menerus mengatakan iya kepada semua orang, lalu berharap masih memiliki waktu untuk memenuhi tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kita tidak bisa selalu mengikuti keinginan sesaat, lalu heran mengapa tujuan jangka panjang tidak kunjung tercapai.

Ada saatnya kita harus berani berkata tidak.

Tidak pada kebiasaan yang merugikan. Tidak pada kesenangan yang terus-menerus menghabiskan waktu. Tidak pada kesempatan yang bertentangan dengan nilai hidup. Dan tidak pada keinginan untuk membuktikan diri kepada semua orang sampai kita lupa apa yang sebenarnya penting.

“Jangan sampai demi mendapatkan sesuatu yang terlihat berharga, kita justru menukar sesuatu yang tidak ternilai: diri kita sendiri.”

Keberhasilan yang sesungguhnya bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga tentang bagaimana kita mendapatkannya dan siapa diri kita setelah melewati prosesnya.

Kita boleh menginginkan kehidupan yang lebih baik. Kita boleh memiliki ambisi besar. Kita boleh berjuang lebih keras daripada sebelumnya.

Namun, jangan sampai dalam perjalanan mengejar masa depan, kita kehilangan prinsip yang seharusnya menjadi pegangan.

Sebab, tidak ada pencapaian yang benar-benar utuh jika untuk mendapatkannya kita harus mengkhianati diri sendiri.

4. Percaya pada Diri Sendiri, Lalu Buktikan dengan Tindakan

Albert Bandura, psikolog yang dikenal melalui konsep self-efficacy, membahas keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk menghadapi tantangan dan melakukan tindakan yang diperlukan.

Dalam bukunya, Self-Efficacy: The Exercise of Control (1997), ia menulis:

“Self-belief does not necessarily ensure success, but self-disbelief assuredly spawns failure.”


— Albert Bandura, Self-Efficacy: The Exercise of Control (1997).

Secara bebas, kalimat tersebut berarti bahwa keyakinan terhadap diri sendiri memang tidak menjamin keberhasilan, tetapi ketidakpercayaan terhadap diri sendiri dapat menjadi awal dari kegagalan.

Kita tidak harus selalu merasa mampu. Ada hari-hari ketika kita merasa tertinggal, merasa tidak cukup pintar, atau mempertanyakan apakah semua usaha ini akan membuahkan hasil.

Perasaan seperti itu manusiawi.

Namun, jangan sampai keraguan menjadi alasan untuk tidak pernah mencoba.

Kita tidak akan mengetahui kemampuan kita jika terus menghindari tantangan. Kita tidak akan berkembang jika selalu menunggu sampai merasa siap. Dan kita tidak akan pernah tahu seberapa jauh kita bisa melangkah jika setiap kesulitan selalu kita artikan sebagai tanda untuk berhenti.

Percaya pada diri sendiri bukan berarti yakin bahwa semuanya akan berjalan sesuai keinginan. Percaya pada diri sendiri berarti bersedia memberikan kesempatan kepada diri kita untuk belajar, mencoba, gagal, dan memperbaiki kesalahan.

“Kamu tidak harus yakin akan berhasil. Kamu hanya perlu berhenti menjadikan kemungkinan gagal sebagai alasan untuk tidak memulai.”

Jangan menunggu keberanian datang dalam bentuk yang sempurna. Terkadang, keberanian muncul justru setelah kita mengambil langkah pertama.

Mulailah meskipun belum mahir. Belajarlah meskipun masih banyak yang tidak dipahami. Kerjakan tanggung jawab meskipun hasilnya belum sempurna.

Sebab, kemampuan tidak selalu hadir sebelum kita mulai. Sering kali, kemampuan justru tumbuh karena kita bersedia memulai.

5. Jangan Hanya Punya Tujuan, Bangun Kebiasaan

Kita sering merasa bahwa memiliki impian besar sudah menjadi langkah awal yang cukup. Kita menulis target, membuat rencana, membayangkan keberhasilan, lalu merasa seolah-olah sudah melakukan sesuatu.

Padahal, impian yang tidak diikuti tindakan hanya akan menjadi sesuatu yang terus kita bicarakan tanpa pernah benar-benar kita wujudkan.

James Clear, dalam bukunya Atomic Habits: An Easy & Proven Way to Build Good Habits & Break Bad Ones (2018), menulis:

“You do not rise to the level of your goals. You fall to the level of your systems.”


— James Clear, Atomic Habits: An Easy & Proven Way to Build Good Habits & Break Bad Ones (2018).

Artinya, kita tidak cukup hanya memiliki tujuan yang tinggi. Kita membutuhkan sistem dan kebiasaan sehari-hari yang membantu kita bergerak menuju tujuan tersebut.

Jika ingin menjadi penulis, biasakan menulis. Jika ingin memiliki kemampuan yang lebih baik, sediakan waktu untuk belajar. Jika ingin memperbaiki kondisi keuangan, mulailah memahami pengeluaran dan mengatur uang sesuai kemampuan.

Tidak harus langsung melakukan perubahan besar.

Satu jam belajar yang konsisten mungkin lebih berguna daripada sepuluh jam yang hanya dilakukan sekali lalu ditinggalkan. Menyisihkan sedikit uang secara teratur dapat menjadi awal yang lebih realistis daripada menunggu penghasilan besar untuk mulai menabung.

Begitu juga dengan memperbaiki diri. Kita tidak harus menjadi pribadi yang sepenuhnya berbeda dalam satu malam. Kita hanya perlu membangun kebiasaan yang secara perlahan membawa kita ke arah yang lebih baik.

“Masa depan tidak hanya ditentukan oleh apa yang kamu inginkan, tetapi juga oleh apa yang kamu ulangi setiap hari.”

Sebab, apa yang kita lakukan sesekali mungkin memberi hasil sesaat, tetapi apa yang kita lakukan secara konsisten berpeluang membentuk kehidupan kita dalam jangka panjang.

Jangan meremehkan langkah kecil hanya karena hasilnya belum terlihat. Namun, jangan pula menjadikan langkah kecil sebagai alasan untuk terus berjalan tanpa evaluasi.

Sesekali, periksa kembali apakah kebiasaan kita benar-benar mendekatkan kita pada tujuan. Jika tidak, ubah caranya. Jika berhasil, lanjutkan. Jika gagal, pelajari penyebabnya.

Kita tidak dituntut untuk selalu benar sejak awal. Kita hanya perlu bersedia belajar dari apa yang kita jalani.

6. Sibuk Belum Tentu Berarti Bergerak Maju

Ada orang yang menghabiskan hari-harinya dengan sangat sibuk, tetapi tetap merasa tidak ke mana-mana.

Pekerjaannya tidak pernah selesai. Pikirannya dipenuhi banyak hal. Jadwalnya padat. Namun, ketika melihat kembali beberapa bulan terakhir, ia sulit menemukan perubahan yang benar-benar berarti.

Hal ini bisa terjadi ketika kita terlalu sibuk menyelesaikan hal-hal mendesak sampai lupa mengerjakan hal-hal penting.

Kita sibuk memenuhi tuntutan hari ini, tetapi tidak pernah menyediakan waktu untuk mempersiapkan hari esok. Kita bekerja keras, tetapi tidak mengembangkan kemampuan. Kita menghabiskan energi untuk memenuhi ekspektasi orang lain, tetapi tidak pernah bertanya apakah kehidupan yang kita jalani masih sesuai dengan tujuan pribadi.

Stephen R. Covey, dalam buku First Things First (1994), membahas pentingnya menentukan prioritas dan menggunakan waktu berdasarkan hal-hal yang sungguh berarti.

“The key is not to prioritize what’s on your schedule, but to schedule your priorities.”


— Stephen R. Covey, A. Roger Merrill, dan Rebecca R. Merrill, First Things First (1994).

Kutipan ini mengingatkan bahwa jadwal yang penuh belum tentu mencerminkan kehidupan yang terarah. Ada perbedaan antara terus-menerus menyelesaikan sesuatu dan menyediakan waktu untuk hal-hal yang benar-benar penting.

Karena itu, sesekali kita perlu berhenti bukan untuk menyerah, melainkan untuk mengevaluasi arah.

Apa yang sedang kita kejar? Apakah tujuan itu benar-benar milik kita, atau sekadar sesuatu yang kita inginkan karena orang lain memilikinya? Apakah kesibukan kita membawa hasil, atau hanya membuat kita merasa produktif?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena tidak semua perjalanan yang melelahkan membawa kita ke tempat yang tepat.

“Jangan bangga hanya karena kamu berlari paling cepat. Pastikan juga kamu sedang menuju tempat yang benar.”

Kita tidak harus menjalani kehidupan yang sama dengan orang lain. Ada yang menemukan keberhasilan lebih cepat, ada yang memerlukan waktu lebih panjang. Ada yang sedang membangun karier, ada yang sedang memperbaiki keadaan keluarganya, dan ada yang sedang berusaha bangkit dari masa sulit.

Kita memiliki titik awal, tanggung jawab, dan keadaan yang berbeda.

Maka, daripada terus mengukur hidup menggunakan pencapaian orang lain, lebih baik kita mulai mengukur diri berdasarkan perkembangan yang benar-benar kita usahakan.

Apakah kita lebih disiplin daripada sebelumnya? Apakah kita lebih bijak menggunakan waktu? Apakah kita mulai berani mengambil tanggung jawab? Apakah kita semakin dekat dengan kehidupan yang ingin kita bangun?

Tidak harus sempurna. Yang penting, ada arah dan kemajuan yang nyata.

7. Pada Akhirnya, Kita Akan Membayar Sesuatu

Hidup selalu membawa pilihan, dan setiap pilihan memiliki konsekuensi.

Jika kita memilih untuk belajar hari ini, mungkin kita harus mengurangi waktu untuk hal lain. Jika kita memilih membangun masa depan, mungkin ada kesenangan yang perlu ditunda. Jika kita memilih bertumbuh, mungkin kita harus menghadapi kegagalan, rasa tidak nyaman, dan proses panjang yang tidak selalu mendapatkan pengakuan.

Namun, jika kita terus menunda, kita juga membayar sesuatu.

Kita membayar dengan waktu yang berlalu, kesempatan yang mungkin tidak kembali, kemampuan yang tidak pernah berkembang, dan penyesalan karena terlalu lama menunggu keberanian untuk memulai.

Bukan berarti semua keterlambatan adalah kesalahan. Hidup memiliki keadaan yang tidak selalu bisa kita kendalikan. Ada tanggung jawab yang harus didahulukan, ada keadaan yang memaksa kita berhenti sejenak, dan ada perjuangan yang hasilnya tidak sepenuhnya berada di tangan kita.

Kita perlu membedakan antara keadaan yang memang belum memungkinkan dan kebiasaan yang selama ini kita gunakan untuk menghindari perubahan.

Sebab, kita tidak bisa mengendalikan semua hal yang terjadi dalam hidup, tetapi kita masih bisa belajar menentukan bagaimana kita meresponsnya.

“Ada harga yang harus dibayar untuk mengejar impian, tetapi ada pula harga yang harus dibayar ketika kita terus menghindarinya.”

Maka, jangan hanya bertanya berapa banyak yang harus dikorbankan untuk mendapatkan kehidupan yang kita inginkan. Tanyakan juga apa yang mungkin hilang jika kita terus menjalani hari tanpa arah.

Pikirkan waktu yang masih kita miliki. Pikirkan kemampuan yang belum kita kembangkan. Pikirkan tanggung jawab yang belum kita selesaikan. Pikirkan orang-orang yang ingin kita bahagiakan dan kehidupan seperti apa yang ingin kita tinggalkan sebagai jejak.

Tidak perlu menjadikan semua itu sebagai beban. Jadikan ia sebagai pengingat bahwa hidup ini terlalu berharga untuk dijalani tanpa kesadaran.

Kita tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini. Kita tidak harus mengetahui seluruh jawaban tentang masa depan. Namun, kita bisa mulai mengambil keputusan yang lebih baik daripada kemarin.

Selesaikan satu pekerjaan yang tertunda. Pelajari satu hal yang berguna. Tinggalkan satu kebiasaan yang merugikan. Atau mulailah sesuatu yang selama ini hanya berani kita bayangkan.

Tidak perlu menunggu tahun depan. Tidak harus menunggu keadaan sempurna. Tidak perlu menunggu semua orang memahami keputusan kita.

Mulailah dari apa yang bisa dilakukan sekarang.

Sebab, pada akhirnya, kita tidak hanya akan melihat kembali apa yang berhasil kita dapatkan. Kita juga akan melihat bagaimana kita menggunakan waktu, apa yang kita perjuangkan, apa yang kita pertahankan, dan keputusan-keputusan yang membentuk diri kita hari ini.

Mungkin kita tidak akan mendapatkan semua yang diinginkan. Mungkin ada impian yang harus diubah, rencana yang harus disusun kembali, dan jalan yang ternyata tidak membawa kita ke tempat yang semula kita harapkan.

Namun, selama kita bersedia belajar, memperbaiki arah, dan bertanggung jawab atas pilihan kita, perjalanan itu tidak harus menjadi sesuatu yang sia-sia.

Karena tujuan hidup bukan sekadar mendapatkan sebanyak mungkin hal, melainkan membangun kehidupan yang benar-benar memiliki arti bagi kita.

Jadi, sebelum hari ini berakhir, cobalah bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang sebenarnya sedang saya perjuangkan? Mengapa hal itu penting bagi saya? Apa yang sudah saya lakukan untuk mendekatinya? Dan apakah saya bersedia membayar harga yang memang diperlukan untuk mewujudkannya?

Jawablah dengan jujur. Bukan untuk menyalahkan diri sendiri atas semua yang belum tercapai, melainkan untuk menyadari bahwa masih ada hal-hal yang bisa kita perbaiki mulai hari ini.

Sebab, hidup bukan hanya tentang apa yang ingin kita dapatkan, tetapi juga tentang apa yang bersedia kita lakukan untuk mendapatkannya—tanpa kehilangan diri sendiri di sepanjang perjalanan.

Dan ingatlah satu hal:

Kamu boleh bermimpi setinggi mungkin, tetapi jangan sampai seluruh hidupmu habis hanya untuk menginginkan sesuatu yang tidak pernah benar-benar kamu perjuangkan.


SUMBER DAN REFERENSI

  1. Seneca. On the Shortness of Life (De Brevitate Vitae), Bab I. Karya filsafat tentang waktu, kehidupan, dan cara manusia menggunakan waktunya.
  2. Frankl, Viktor E. Man’s Search for Meaning. Beacon Press. Rujukan mengenai pencarian makna, perjuangan, dan tujuan hidup.
  3. Bandura, Albert. (1997). Self-Efficacy: The Exercise of Control. W. H. Freeman. Rujukan tentang keyakinan terhadap kemampuan diri dan hubungannya dengan tindakan.
  4. Clear, James. (2018). Atomic Habits: An Easy & Proven Way to Build Good Habits & Break Bad Ones. Avery. Rujukan tentang kebiasaan, sistem, dan perubahan perilaku. https://jamesclear.com/atomic-habits
  5. Covey, Stephen R., A. Roger Merrill, dan Rebecca R. Merrill. (1994). First Things First. Simon & Schuster. Rujukan mengenai prioritas, efektivitas, dan pengelolaan waktu.
  6. Al-Qur’an. QS. Adz-Dzariyat [51]: 56. Tentang tujuan penciptaan manusia untuk beribadah kepada Allah. https://quran.com/51/56
  7. Al-Qur’an. QS. Al-’Asr [103]: 1–3. Tentang waktu, iman, amal saleh, kebenaran, dan kesabaran. https://quran.com/103

Bagikan:

Karya Guru Lainnya