Lewati ke konten utama
Logo Yayasan Roudlotul Qur'an

Diantara dua ruang kelas,Aku menemukan makna

Diantara dua ruang kelas,Aku menemukan makna
Karya Guru Puput Dsi Handayani,S.Pd — Guru Bahasa Inggris Karya Tulis 2026 6x dilihat

Di Antara Dua Ruang Kelas, Aku Menemukan Makna

Banyak orang mengira menjadi guru hanya tentang berdiri di depan kelas, menjelaskan materi, lalu pulang ketika bel sekolah berbunyi. Padahal, bagi sebagian guru, dunia mengajar tidak berhenti di gerbang sekolah. Dunia itu terus berjalan, berpindah dari satu ruang belajar ke ruang belajar lainnya, dari pagi hingga malam, dengan tujuan yang sama: menyalakan harapan melalui pendidikan.

Begitulah keseharianku.

Pagi hari dimulai dengan langkah menuju sekolah. Di sanalah aku menjalankan amanah sebagai seorang guru. Aku mengajar, mendampingi, menegur, memotivasi, sekaligus belajar memahami begitu banyak karakter siswa. Setiap hari adalah cerita yang berbeda. Ada yang datang dengan senyum penuh semangat, ada yang membawa kegelisahan, ada yang mudah memahami pelajaran, dan ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan rasa percaya dirinya.

Namun, menjadi guru di sekolah bukan hanya tentang mengajar.

Di balik jam pelajaran yang terlihat oleh siswa, ada dunia lain yang jarang diketahui banyak orang. Dunia yang dipenuhi modul ajar, perangkat pembelajaran, jurnal mengajar, asesmen, rekapitulasi nilai, refleksi pembelajaran, hingga berbagai laporan administrasi yang harus diselesaikan tepat waktu. Tidak sedikit sore yang kuhabiskan di depan layar laptop, bukan untuk beristirahat, melainkan menyelesaikan berkas-berkas yang menjadi bagian dari tanggung jawab profesi.

Aku memahami bahwa semua administrasi itu memiliki tujuan yang baik. Perencanaan dan evaluasi adalah bagian penting dari pendidikan yang berkualitas. Namun, sebagai manusia, ada saat-saat ketika tubuh dan pikiran sama-sama merasa lelah. Ada kalanya aku bertanya dalam hati, "Kapan terakhir kali aku benar-benar hanya menikmati proses mengajar, tanpa dibayangi daftar administrasi yang harus segera selesai?"

Meski begitu, hari-hariku belum berakhir ketika bel pulang sekolah berbunyi.

Selepas siang, aku kembali melangkah menuju tempat bimbingan belajar. Banyak orang mungkin mengira aku akan semakin lelah karena harus mengajar lagi hingga menjelang malam. Nyatanya, justru di sanalah aku menemukan energi yang seolah hilang sejak pagi.

Suasananya berbeda.

Aku datang tanpa membawa tumpukan berkas, tanpa memikirkan jurnal pembelajaran yang harus diisi, tanpa dikejar tenggat administrasi. Yang kubawa hanyalah beberapa kartu bergambar, buku kecil, spidol, dan semangat untuk bertemu dengan anak-anak.

Sebagai guru Bahasa Inggris, aku mengajar anak-anak usia dini. Kami tidak membahas tata bahasa yang rumit atau menghafal belasan tenses. Dunia kami jauh lebih sederhana, tetapi justru di sanalah letak keindahannya.

Kami bernyanyi bersama mengenal nama-nama hewan. Kami bermain tebak gambar untuk menghafal kosakata. Kami belajar menyebut warna, buah, anggota tubuh, dan benda-benda di sekitar. Sesekali kami bermain peran sambil berlatih percakapan sederhana.

"Good morning, Miss."

"How are you, Miss?"

"I'm fine, thank you."

 

Kalimat-kalimat sederhana yang pada awalnya mereka ucapkan dengan suara lirih dan terbata-bata, perlahan berubah menjadi sapaan yang keluar begitu saja tanpa diminta.

Aku masih mengingat seorang anak yang pada pertemuan pertama hanya bersembunyi di balik ibunya. Ketika kuajak berbicara dalam Bahasa Inggris, ia hanya menggeleng pelan sambil menundukkan kepala. Bahkan mengucapkan satu kata pun terasa begitu sulit baginya.

Namun, belajar memang selalu membutuhkan waktu.

Minggu demi minggu berlalu. Kami bernyanyi, bermain, tertawa, dan belajar tanpa mereka sadari bahwa sebenarnya mereka sedang menyerap begitu banyak kosakata baru.

Hingga suatu sore, saat aku baru saja memasuki halaman bimbingan belajar, terdengar suara kecil berlari dari kejauhan.

 

"Miiiss... Miss sudah datang!"

 

Anak yang dulu pemalu itu menghampiriku dengan wajah berseri-seri.

"Good afternoon, Miss!" sapanya lantang.

Aku spontan tersenyum.

Bukan karena pengucapannya sempurna.

Bukan pula karena ia mampu menghafal banyak kosakata.

Melainkan karena aku menyaksikan sesuatu yang jauh lebih berharga: keberanian.

Ada pula anak lain yang setiap kali menemukan benda baru selalu bertanya dengan rasa ingin tahu yang begitu besar.

 

"Miss, bahasa Inggrisnya payung apa?"

"Miss, kalau kupu-kupu apa?"

Lalu beberapa hari kemudian, tanpa diminta, ia menunjuk seekor kucing yang melintas sambil berkata bangga,

"Miss... cat!"

Sederhana. Sangat sederhana.

Namun bagiku, momen-momen kecil seperti itu memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada angka-angka dalam sebuah laporan. Yang paling menghangatkan hati adalah ketika kelas selesai. Bukannya bergegas pulang, beberapa anak justru masih mengikutiku hingga depan pintu.

 

"See you tomorrow, Miss!"

 

Kalimat itu terdengar hampir setiap hari.

Mungkin bagi orang lain, itu hanyalah ucapan perpisahan.

Namun bagiku, sapaan "Miss" yang mereka ucapkan dengan penuh semangat adalah penghargaan yang tidak pernah tertulis dalam lembar penilaian apa pun.

Di tempat bimbingan belajar, aku kembali diingatkan tentang alasan mengapa dulu aku memilih menjadi seorang guru.

Bukan semata-mata untuk menyelesaikan administrasi.

Bukan pula sekadar memenuhi target kurikulum.

Melainkan untuk menyaksikan proses kecil yang luar biasa: seorang anak yang awalnya malu kini berani berbicara, seorang anak yang tidak mengenal satu pun kosakata kini dengan bangga menyebut nama benda-benda di sekitarnya dalam Bahasa Inggris, dan sekelompok anak yang selalu menyambutku dengan senyum paling tulus sambil berteriak,

 

"Miss... Miss datang!"

Lalu, jika suatu hari seseorang bertanya kepadaku,

"Kalau harus memilih, lebih nyaman mengajar di sekolah atau di bimbingan belajar?"

Aku rasa aku tidak akan pernah mampu menjawabnya.

Sekolah mengajarkanku arti tanggung jawab, profesionalisme, dan pengabdian sebagai seorang pendidik. Di sanalah aku belajar bahwa pendidikan membutuhkan sistem yang tertata agar setiap anak memperoleh hak belajar yang terbaik.

Sementara bimbingan belajar selalu mengingatkanku pada alasan paling sederhana mengapa aku jatuh cinta pada profesi ini. Di sanalah aku kembali menemukan kegembiraan yang mungkin sempat tertutup oleh tumpukan administrasi. Aku belajar bahwa kebahagiaan seorang guru terkadang lahir dari hal-hal yang sangat kecil: senyum seorang anak, sapaan "Good morning, Miss", tawa saat bermain sambil belajar, atau mata berbinar ketika berhasil menghafal satu kosakata baru.

Kini aku menyadari bahwa ternyata aku tidak hidup di dua dunia yang berbeda.

Aku hanya sedang menjalani dua sisi dari profesi yang sama.

Yang satu mengajarkanku tentang tanggung jawab.

Yang satu lagi mengingatkanku tentang alasan.

Dan mungkin, setiap guru membutuhkan keduanya.

Karena pada akhirnya, dunia seorang guru bukan hanya tentang mengajar, bukan pula sekadar menyelesaikan administrasi. Dunia seorang guru adalah tentang meninggalkan jejak-jejak kecil dalam kehidupan muridnya. Jejak yang mungkin tidak langsung terlihat hari ini, tetapi suatu saat akan tumbuh menjadi keberanian, pengetahuan, dan mimpi.

Aku mungkin tidak akan selalu diingat sebagai guru yang paling hebat. Namaku mungkin perlahan dilupakan seiring bertambahnya usia murid-muridku. Namun, jika suatu hari nanti ada seorang anak yang tanpa sadar menyapa gurunya yang baru dengan percaya diri, mengucapkan "Good morning" dengan senyum lebar, atau masih mengingat bahwa dulu ada seseorang yang sabar mengajarinya mengucapkan kata pertama dalam Bahasa Inggris, maka aku tahu, sebagian kecil dari diriku akan tetap hidup dalam perjalanan mereka.

Dan bagiku, itulah arti sesungguhnya menjadi seorang guru.

Bukan tentang seberapa lama aku berdiri di depan kelas.

Melainkan tentang seberapa banyak hati yang pernah kusentuh, satu pelajaran, satu senyuman, dan satu sapaan sederhana—

"Miss..."

 

 



Bagikan:

Karya Guru Lainnya