Inilah Aku, atau Hanya Batas yang Kubuat Sendiri?
Pernahkah kita berkata, “Aku memang nggak pintar matematika,” “Aku nggak berbakat,” atau “Aku memang seperti ini”? Kalimat sederhana itu bisa berubah menjadi label yang tanpa sadar membatasi diri.
Dalam psikologi dikenal fixed mindset dan growth mindset. Fixed mindset memandang kemampuan sebagai sesuatu yang relatif tetap, sedangkan growth mindset melihat kemampuan sebagai sesuatu yang dapat berkembang melalui belajar, usaha, pengalaman, dan kemauan memperbaiki diri.
Karena itu, ketika gagal, kita bisa berkata, “Aku tidak bisa,” atau memilih berkata, “Aku belum bisa.” Kata belum menyisakan ruang untuk belajar.
Namun, growth mindset bukan berarti semua hal pasti berhasil hanya dengan berpikir positif. Ada keterbatasan dan keadaan yang tidak dapat kita kendalikan. Bertumbuh berarti mau belajar, mengevaluasi kesalahan, meminta bantuan, mencoba strategi lain, dan terus berusaha.
Hal ini dekat dengan ajaran Islam. Allah berfirman dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
QS. An-Najm ayat 39 juga mengingatkan:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
Sebagai guru, saya melihat setiap anak memiliki perjalanan yang berbeda. Ada yang cepat memahami pelajaran, ada yang membutuhkan waktu, ada yang percaya diri, dan ada yang takut salah. Karena itu, kita perlu berhati-hati memberi label. Apa yang terlihat hari ini hanyalah satu halaman dari cerita mereka, bukan keseluruhan buku.
Sebagai ibu dari tiga anak, saya pun belajar bahwa tidak ada satu cara yang cocok untuk semua anak. Mereka berbeda dalam cara berpikir, belajar, dan menghadapi masalah. Saya belajar mendengarkan sebelum menasihati, tidak membandingkan, dan mengatakan, “Tidak apa-apa. Kita coba lagi.”
Ternyata, mendampingi anak bertumbuh berarti bersedia bertumbuh sebagai orang tua. Sebagai guru, saya belajar. Sebagai ibu, saya belajar. Sebagai manusia, saya juga masih belajar.
Kita bukan nilai ujian. Kita bukan satu kegagalan. Kita bukan satu kesalahan. Kita adalah proses.
Maka ketika suatu hari kita berkata, “Aku memang seperti ini,” berhentilah sejenak dan tanyakan:
“Benarkah ini diriku, atau hanya batas yang selama ini kubuat sendiri?”
Mungkin kita belum sehebat yang kita harapkan. Tidak apa-apa. Selama masih mau belajar, mencoba, dan memperbaiki diri, cerita kita belum selesai.
Kita tidak harus menjadi orang lain. Kita hanya perlu terus bertumbuh menjadi diri kita yang lebih baik.
Sumber: Carol S. Dweck/Stanford University; Stanford Center for Teaching and Learning; OECD PISA 2022; Al-Qur’an QS. Ar-Ra’d: 11 dan QS. An-Najm: 39–40.