Inilah Aku, atau Hanya Batas yang Kubuat Sendiri?
Penulis: Siti Mutmainah, S.Pd.
Guru Bahasa Inggris, MTs. Terpadu Roudlotul Qur’an
Ada satu kebiasaan yang sering kita lakukan tanpa sadar: memberi label kepada diri sendiri.
“Aku memang nggak pintar matematika.”
“Aku memang orangnya pemalu.”
“Aku nggak berbakat menulis.”
“Aku memang seperti ini dari dulu.”
Kalimat-kalimat itu terdengar biasa. Bahkan mungkin pernah kita ucapkan berkali-kali.
Tetapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya:
Benarkah itu diri kita, atau hanya keyakinan yang terlalu lama kita percayai?
Pertanyaan sederhana inilah yang membuat saya tertarik pada pembahasan tentang
fixed mindset dan growth mindset.
Sebagai seorang guru Bahasa Inggris, saya sering melihat bahwa kemampuan seseorang tidak selalu dapat dilihat dari hasil yang ia peroleh hari ini. Ada anak yang awalnya sangat pendiam, tetapi perlahan berani berbicara. Ada yang berkali-kali salah dalam menggunakan bahasa Inggris, tetapi terus mencoba sampai akhirnya mampu. Ada pula yang sebenarnya memiliki potensi, tetapi memilih berhenti karena sudah terlanjur percaya bahwa dirinya “tidak bisa”.
Dari situ saya belajar satu hal:
Terkadang, yang paling menghambat seseorang bukan kurangnya kemampuan, tetapi keyakinan bahwa dirinya tidak mampu berkembang.
Ketika “Aku Tidak Bisa” Menjadi Sebuah Keyakinan
Dalam psikologi, Carol S. Dweck memperkenalkan istilah
fixed mindset, yaitu pola pikir ketika seseorang memandang kemampuan atau kecerdasan sebagai sesuatu yang relatif tetap.
Sebaliknya,
growth mindset memandang kemampuan sebagai sesuatu yang dapat berkembang melalui proses belajar, usaha, strategi yang tepat, pengalaman, dan umpan balik.
Namun, menurut saya, pembahasan ini bukan sekadar tentang istilah psikologi.
Ini tentang bagaimana kita memandang diri sendiri.
Bayangkan seorang siswa mendapatkan nilai yang kurang baik dalam ujian.
Ia bisa berkata:
“Aku memang bodoh. Aku nggak akan pernah bisa.”
Namun ia juga bisa berkata:
“Aku belum memahami materi ini. Aku perlu belajar lagi dan mungkin mencoba cara yang berbeda.”
Nilainya mungkin sama.
Kegagalannya juga sama.
Tetapi cara memandang kegagalan itu berbeda.
Kalimat pertama menjadikan kegagalan sebagai
identitas.
Kalimat kedua menjadikan kegagalan sebagai
proses belajar.
Dan di situlah letak perbedaannya.
Islam Tidak Mengajarkan Kita untuk Berhenti pada Keadaan
Menariknya, jauh sebelum istilah
growth mindset dikenal dalam psikologi modern, Islam telah mengajarkan pentingnya ikhtiar dan perubahan diri.
Allah berfirman dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11 yang artinya :
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini tentu bukan teori
growth mindset. Namun, ada nilai yang sangat indah untuk kita renungkan: perubahan membutuhkan kesadaran dan usaha dari dalam diri.
Kita tidak bisa hanya berharap keadaan menjadi lebih baik tanpa berusaha memperbaiki diri.
Jika ingin lebih berani, kita perlu belajar menghadapi rasa takut.
Jika ingin lebih pintar, kita perlu belajar.
Jika ingin menjadi pribadi yang lebih baik, kita perlu berani mengevaluasi diri.
Dan jika hari ini kita belum berhasil, bukan berarti perjalanan kita berakhir.
Mungkin kita hanya sedang berada di bagian perjalanan yang membutuhkan lebih banyak kesabaran.
Allah juga berfirman dalam QS. An-Najm ayat 39 yang artinya :
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)
Ayat ini mengingatkan saya untuk tidak meremehkan sebuah proses.
Hasil memang penting.
Tetapi usaha, kesungguhan, dan proses untuk mencapainya juga memiliki makna.
Bukan Berarti Kita Harus Selalu Berhasil
Ada satu hal yang menurut saya penting untuk diluruskan.
Memiliki
growth mindset bukan berarti kita harus percaya bahwa kita pasti bisa melakukan apa pun hanya dengan berpikir positif.
Tidak sesederhana itu.
Kita tetap memiliki keterbatasan. Tidak semua hal akan berhasil sesuai keinginan. Ada usaha yang membutuhkan waktu panjang. Ada kegagalan yang harus kita terima. Bahkan terkadang, kita harus mengubah tujuan dan mencari jalan yang berbeda.
Namun, menerima keterbatasan berbeda dengan
menyerah sebelum mencoba.
Ada perbedaan antara:
“Aku tidak bisa.”
dan
“Aku belum bisa.”
Kata
belum memang sederhana.
Tetapi ia memberikan ruang.
Ruang untuk belajar.
Ruang untuk mencoba.
Ruang untuk gagal.
Dan yang paling penting, ruang untuk berkembang.
Gagasan ini bukan hanya sebuah kalimat motivasi.
Dalam kajian OECD berdasarkan data PISA, siswa yang memiliki growth mindset cenderung menunjukkan hasil belajar dan motivasi yang lebih baik. PISA 2022 menunjukkan bahwa di negara-negara OECD, siswa yang tidak setuju bahwa kecerdasan seseorang sulit berubah memiliki rata-rata skor matematika sekitar 18 poin lebih tinggi dibandingkan siswa yang memiliki pandangan lebih fixed, setelah memperhitungkan karakteristik sosial-ekonomi siswa dan sekolah.
Namun, data tersebut juga perlu dibaca dengan bijak.
Growth mindset
bukanlah “rumus ajaib” yang otomatis membuat seseorang sukses.
Prestasi belajar dipengaruhi banyak hal: kualitas pembelajaran, dukungan guru dan keluarga, lingkungan, kesempatan belajar, kondisi sosial-ekonomi, strategi belajar, dan masih banyak faktor lainnya.
Jadi, bukan sekadar:
“Berpikirlah positif, maka kamu akan sukses.”
Tetapi:
“Percayalah bahwa kamu dapat berkembang, lalu buktikan keyakinan itu melalui usaha dan proses belajar.”
Sebagai Guru, Saya Belajar dari Anak-Anak
Saya senang membaca buku dan hampir selalu tertarik pada hal-hal yang berkaitan dengan
self-improvement.
Bagi saya, membaca bukan hanya tentang menambah pengetahuan. Ada banyak buku yang membuat saya bercermin dan bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah saya menjadi pribadi yang lebih baik?