Lewati ke konten utama
Logo Roudlotul Quran Lamongan

Normalisasi

Normalisasi
Karya Guru Siti Mutmainah, S.Pd — Guru Karya Tulis 2026 8x dilihat

NORMALISASI

Ketika yang Salah Perlahan Terlihat Biasa

Catatan seorang ibu, guru, dan pembelajar yang sedang belajar menjaga apa yang benar.

Ada satu hal yang belakangan ini sering membuat saya berpikir.

Bukan tentang bagaimana dunia berubah. Bukan pula tentang bagaimana teknologi berkembang begitu cepat. Tetapi tentang bagaimana hati manusia perlahan belajar menerima sesuatu yang dulu dianggap salah.

Saya seorang ibu dari tiga anak. Saya juga seorang guru Bahasa Inggris. Setiap hari saya berhadapan dengan anak-anak. Saya mengajar mereka kosakata, tata bahasa, percakapan, dan bagaimana menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan dunia.

Tetapi semakin lama saya mengajar, semakin saya sadar bahwa tugas seorang guru sebenarnya jauh lebih besar daripada sekadar mengajarkan pelajaran.

Kita sedang ikut membentuk cara anak-anak melihat dunia.

Dan sebagai seorang ibu, saya semakin sering bertanya kepada diri sendiri:

“Dunia seperti apa yang sedang kita wariskan kepada anak-anak kita?”

Pertanyaan itu sederhana.

Tetapi semakin saya pikirkan, semakin berat jawabannya.

Ada yang Berubah, Tetapi Bukan Kebenarannya

Saya masih ingat ketika dahulu melihat sesuatu yang tidak pantas, kita spontan merasa tidak nyaman.

Kita berkata:

“Itu tidak baik.”
“Itu tidak pantas.”
“Jangan ditiru.”

Tetapi hari ini, banyak hal muncul begitu sering di depan mata kita.

Awalnya kita merasa aneh. Besok kita melihatnya lagi. Lusa muncul lagi. Kemudian menjadi bahan pembicaraan. Kemudian menjadi tontonan. Kemudian menjadi tren. Lama-lama kita tidak lagi merasa terganggu.

Bahkan mungkin kita mulai berkata:

“Sudahlah, sekarang memang zamannya seperti itu.”

Di situlah saya mulai memahami satu kata yang menurut saya sangat penting untuk kita renungkan: normalisasi.

Sesuatu yang salah tidak berubah menjadi benar hanya karena terlalu sering kita lihat.

Tetapi yang mengkhawatirkan adalah ketika terlalu sering melihat membuat kita berhenti merasa bahwa itu salah.

Yang Membuat Saya Takut Bukan Hanya Anak Melakukan Kesalahan

Sebagai seorang ibu, tentu saya takut anak-anak saya melakukan kesalahan.

Tetapi ada sesuatu yang lebih saya khawatirkan.

Saya lebih takut jika suatu hari mereka melakukan sesuatu yang salah dan tidak lagi merasa bahwa itu salah.

Karena kalau seseorang masih merasa bersalah, masih ada ruang untuk memperbaiki diri.

Masih ada suara hati. Masih ada kesempatan untuk berhenti.

Tetapi bagaimana jika hati sudah berkata:

“Memangnya kenapa?”

Bagaimana jika kebohongan dianggap biasa? Kecurangan dianggap kepandaian? Mengambil sesuatu yang bukan hak dianggap rezeki? Pergaulan tanpa batas dianggap modern? Perilaku tidak pantas dianggap sekadar hiburan? Dan sesuatu yang haram dianggap tidak masalah karena:

“Semua orang juga melakukannya.”

Di situlah saya merasa bahwa persoalannya sudah jauh lebih besar daripada sekadar perilaku.

Yang sedang dipertaruhkan adalah kompas moral kita.

“Semua Orang Juga Begitu”

Saya kira hampir semua orang pernah mendengar kalimat ini.

Bahkan mungkin pernah mengucapkannya.

“Semua orang juga begitu.”

Kalimat yang terdengar sederhana.

Tetapi sebenarnya sangat kuat dalam memengaruhi keputusan kita.

Psikologi sosial mengenal fenomena pluralistic ignorance, yaitu ketika seseorang salah memperkirakan apa yang sebenarnya dipikirkan atau dirasakan oleh orang lain.

Penelitian Prentice dan Miller terhadap mahasiswa menemukan bahwa mahasiswa dapat mengira teman-temannya lebih menerima perilaku minum alkohol daripada kenyataannya. Dengan kata lain, seseorang dapat mengikuti sesuatu karena menganggap orang lain juga menyetujuinya, padahal persepsi tersebut belum tentu benar.

Saya membaca penelitian itu dan kemudian berpikir:

Bukankah ini juga sering terjadi dalam kehidupan kita?

Kita mengikuti karena takut berbeda.

Kita diam karena mengira semua orang setuju.

Kita membiarkan karena berpikir:

“Kalau hanya saya yang keberatan, buat apa?”

Padahal mungkin orang lain juga sedang berpikir hal yang sama.

Mungkin banyak orang sebenarnya tidak setuju.

Hanya saja tidak ada yang berani menjadi orang pertama yang mengatakan:

“Ini tidak benar.”

Sebagai Guru, Saya Belajar Bahwa Anak Lebih Banyak Melihat daripada Mendengar

Ada satu hal yang semakin saya sadari sebagai guru.

Anak-anak tidak hanya mendengarkan apa yang kita katakan. Mereka memperhatikan apa yang kita lakukan.

Kita bisa berkali-kali mengatakan:

“Jangan berbohong.”

Tetapi mereka melihat bagaimana orang dewasa berbohong untuk keluar dari masalah.

Kita bisa mengatakan:

“Jangan menyontek.”

Tetapi mereka melihat orang dewasa membenarkan kecurangan dengan alasan:

“Yang penting hasilnya.”

Kita bisa mengatakan:

“Jangan mengambil sesuatu yang bukan hakmu.”

Tetapi mereka melihat orang dewasa menerima sesuatu yang sebenarnya tidak pantas diterima dan berkata:

“Ah, cuma sedikit.”

Anak-anak belajar bukan hanya dari nasihat.

Mereka belajar dari contoh yang berulang.

Gagasan ini memiliki dasar kuat dalam teori pembelajaran sosial Albert Bandura. Manusia dapat belajar melalui pengamatan terhadap perilaku orang lain, termasuk konsekuensi yang mengikuti perilaku tersebut.

Karena itu, saya sering mengingatkan diri sendiri:

“Sebelum meminta anak menjadi pribadi yang baik, pastikan mereka melihat contoh kebaikan itu dalam diri kita.”

Saya Tidak Ingin Anak-Anak Saya Hanya Menjadi Pintar

Sebagai guru Bahasa Inggris, tentu saya ingin murid-murid saya pintar.

Saya ingin mereka mampu berkomunikasi.

Saya ingin mereka percaya diri.

Saya ingin mereka memiliki kemampuan yang membuat mereka mampu bersaing di masa depan.

Tetapi sebagai seorang ibu, saya menginginkan sesuatu yang lebih.

Saya ingin anak-anak saya memiliki integritas.

Karena kecerdasan tanpa integritas bisa menjadi masalah.

Orang pintar tetapi tidak jujur dapat menggunakan kepandaiannya untuk menipu.

Orang berpendidikan tetapi tidak memiliki integritas dapat menggunakan ilmunya untuk membenarkan kesalahan.

Orang yang memiliki jabatan tetapi kehilangan moral dapat menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan diri sendiri.

Maka bagi saya, pendidikan bukan hanya tentang seberapa tinggi nilai seseorang.

Tetapi juga seberapa kuat ia memegang prinsip ketika tidak ada yang melihat.

Integritas Diuji Ketika Kita Bisa Melakukan Kesalahan, Tetapi Memilih Tidak Melakukannya

Saya percaya bahwa integritas bukan tentang menjadi manusia yang tidak pernah salah.

Kita semua bisa salah.

Saya pun bisa salah.

Sebagai ibu, saya bisa salah.

Sebagai guru, saya bisa salah.

Sebagai manusia, saya tentu jauh dari sempurna.

Tetapi saya ingin terus belajar.

Saya ingin terus melakukan self-improvement.

Bukan untuk menjadi manusia yang sempurna.

Tetapi untuk menjadi manusia yang setiap hari sedikit lebih baik daripada kemarin.

Bagi saya, memperbaiki diri bukan hanya belajar keterampilan baru.

Bukan hanya membaca buku.

Bukan hanya mengikuti pelatihan.

Tetapi juga berani bertanya kepada diri sendiri:

“Apakah ada sesuatu yang selama ini saya anggap biasa, padahal sebenarnya tidak benar?”

Pertanyaan itu tidak selalu nyaman.

Tetapi mungkin justru pertanyaan seperti itulah yang membuat kita terus tumbuh.

Ketika Kesalahan Diberi Nama yang Lebih Halus

Ada hal lain yang menurut saya menarik.

Kadang-kadang kita tidak mengubah kesalahannya.

Kita hanya mengubah namanya.

Suap disebut uang terima kasih.

Kecurangan disebut akal-akalan.

Kebohongan disebut menjaga perasaan.

Nepotisme disebut membantu keluarga.

Pelanggaran etika disebut fleksibilitas.

Perilaku yang tidak pantas disebut kebebasan.

Albert Bandura menyebut salah satu mekanisme ini sebagai euphemistic labeling, bagian dari konsep moral disengagement. Manusia dapat menggunakan bahasa yang lebih halus sehingga sebuah tindakan yang sebenarnya bermasalah terasa lebih dapat diterima secara moral.

Saya kemudian berpikir:

“Jangan-jangan terkadang kita bukan sedang mengubah perilakunya. Kita hanya sedang mencari nama yang membuat hati kita lebih nyaman ketika melakukannya.”

Dan itu sangat berbahaya.

Kita Tidak Boleh Menjadikan Algoritma sebagai Kompas Moral

Sebagai guru dan orang tua, saya juga melihat tantangan lain.

Anak-anak kita hidup di dunia yang berbeda dengan dunia ketika kita tumbuh.

Mereka dapat melihat ribuan konten hanya dalam satu hari.

Mereka melihat apa yang viral.

Apa yang populer.

Apa yang mendapat jutaan penonton.

Apa yang dilakukan influencer.

Apa yang dianggap keren.

Dan karena sesuatu muncul berulang kali, perlahan muncul kesan:

“Berarti ini normal.”

Padahal tidak.

Apa yang viral belum tentu benar.

Apa yang populer belum tentu baik.

Apa yang banyak dilakukan belum tentu layak ditiru.

Karena itu, saya ingin anak-anak saya memiliki kemampuan yang lebih penting daripada sekadar mengikuti tren: kemampuan untuk berpikir kritis.

Mereka harus mampu bertanya:

“Apakah ini benar?”

“Apakah ini baik?”

“Apakah ini sesuai dengan nilai yang saya yakini?”

Dan yang paling penting:

“Kalau semua orang melakukannya, apakah itu berarti saya harus ikut?”

Islam Sudah Mengingatkan Kita tentang Hak dan Batil

Sebagai seorang Muslim, saya menemukan pegangan yang sangat kuat dalam Al-Qur'an.

Allah berfirman:

“Agar Allah memperkuat yang hak (Islam) dan menghilangkan yang batil, walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya.”

— QS. Al-Anfal: 8.

Ayat ini berbicara dalam konteks peristiwa Badr, tentang pertolongan Allah untuk menegakkan yang hak dan menghilangkan yang batil.

Tetapi bagi saya, ada pelajaran moral yang sangat dalam:

Yang hak tidak perlu berubah menjadi batil hanya karena batil terlihat lebih ramai.

Dan yang batil tidak berubah menjadi hak hanya karena semakin banyak orang menerimanya.

Kadang-kadang kebenaran memang tidak populer.

Kadang-kadang mempertahankan prinsip membuat kita sendirian.

Tetapi menjadi sedikit bukan berarti menjadi salah.

Jangan Mengikuti Mayoritas Tanpa Berpikir

Allah juga mengingatkan:

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”

— QS. Al-An'am: 116.

Bagi saya, ayat ini bukan ajakan untuk selalu menolak mayoritas.

Tetapi sebuah pengingat:

Jangan menjadikan jumlah sebagai satu-satunya ukuran kebenaran.

Kalau sesuatu haram, ia tetap haram meskipun banyak yang melakukannya.

Kalau sesuatu tidak benar, ia tetap tidak benar meskipun banyak yang membelanya.

Dan kalau sesuatu benar, ia tetap benar meskipun hanya sedikit orang yang mempertahankannya.

Jangan Menunggu Sampai Hati Kita Terbiasa

Al-Qur'an bahkan menggunakan bahasa yang sangat kuat:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.”

— QS. Al-Isra': 32.

Bukan hanya jangan melakukan.

Tetapi:

Jangan mendekati.

Karena keburukan sering kali tidak datang sekaligus.

Ia datang sedikit demi sedikit.

Melihat.

Kemudian terbiasa melihat.

Menikmati.

Kemudian membenarkan.

Mencoba.

Mengulangi.

Dan akhirnya kehilangan rasa bersalah.

Sampai suatu hari kita bertanya:

“Memangnya salah?”

Bagi saya, kalimat itulah yang paling menakutkan.

Bukan karena seseorang sedang melakukan kesalahan.

Tetapi karena ia sudah kehilangan kemampuan untuk merasakan bahwa itu salah.

Bagaimana dengan Korupsi?

Kita tidak perlu mencari contoh yang terlalu jauh.

Lihat saja persoalan integritas di negeri kita.

Dalam Survei Penilaian Integritas (SPI) 2024, KPK mencatat Indeks Integritas Nasional sebesar 71,53 dan masih menempatkannya dalam kategori rentan. KPK juga melaporkan bahwa praktik suap dan gratifikasi masih ditemukan pada 90% kementerian/lembaga dan 97% pemerintah daerah dalam cakupan survei. Angka tersebut tidak berarti 97% pemerintah daerah melakukan korupsi, tetapi menunjukkan bahwa praktik suap dan gratifikasi masih ditemukan secara luas.

KPK juga menemukan sektor pengadaan barang dan jasa sebagai salah satu sektor paling rentan, dengan risiko penyalahgunaan yang dilaporkan sebesar 97% pada kementerian/lembaga dan 99% pada pemerintah daerah.

Data ini seharusnya tidak hanya membuat kita prihatin terhadap angka.

Tetapi membuat kita bertanya:

“Bagaimana jika suatu hari anak-anak kita tumbuh dengan keyakinan bahwa korupsi adalah sesuatu yang biasa?”

Bagaimana jika mereka berkata:

“Memangnya ada yang tidak begitu?”

Itulah yang harus kita cegah.

Karena yang perlu kita lawan bukan hanya tindakan korupsinya.

Tetapi budaya yang membuat korupsi terasa wajar.

Untuk Para Siswa: Jangan Takut Tidak Ikut-ikutan

Kalau kamu seorang siswa dan membaca tulisan ini, saya ingin mengatakan satu hal kepadamu.

Tidak apa-apa kalau kamu berbeda.

Tidak apa-apa kalau kamu tidak mengikuti semua temanmu.

Tidak apa-apa kalau kamu memilih jujur ketika yang lain menyontek.

Tidak apa-apa kalau kamu memilih tidak membagikan konten yang tidak pantas.

Tidak apa-apa kalau kamu mengatakan:

“Saya tidak mau.”

Kamu tidak harus mengikuti semua orang hanya agar diterima.

Karena pada akhirnya, yang menentukan masa depanmu bukan seberapa banyak orang yang menyukaimu hari ini.

Tetapi siapa dirimu ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Untuk Para Guru: Jadilah Apa yang Ingin Kita Lihat pada Anak

Kita sering berbicara tentang pendidikan karakter.

Tetapi karakter tidak lahir hanya dari slogan.

Ia lahir dari contoh.

Jika kita ingin siswa jujur, tunjukkan kejujuran.

Jika kita ingin siswa disiplin, tunjukkan disiplin.

Jika kita ingin siswa menghormati orang lain, tunjukkan penghormatan.

Jika kita ingin mereka berani mengakui kesalahan, jangan takut mengakui kesalahan kita sendiri.

Karena seorang guru mungkin lupa apa yang pernah ia ajarkan.

Tetapi seorang siswa bisa mengingat bagaimana gurunya membuat ia merasa dan apa yang gurunya contohkan.

Untuk Para Orang Tua: Anak Tidak Membutuhkan Orang Tua yang Sempurna

Saya mengatakan ini juga kepada diri saya sendiri.

Kita tidak harus menjadi orang tua yang sempurna.

Kita hanya perlu terus belajar.

Terus memperbaiki diri.

Terus meminta maaf ketika salah.

Terus menunjukkan bahwa menjadi baik bukan berarti tidak pernah jatuh.

Tetapi selalu mau bangkit.

Saya ingin anak-anak saya melihat bahwa self-improvement bukan sekadar istilah.

Ia adalah cara hidup.

Hari ini belajar.

Besok memperbaiki.

Lusa mencoba lagi.

Karena menjadi orang baik bukan proyek satu hari.

Ia adalah perjalanan seumur hidup.

Untuk Kita Semua: Jangan Sampai Hati Kehilangan Rasa

Pada akhirnya, tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun.

Bukan untuk mengatakan bahwa saya lebih baik daripada orang lain.

Justru sebaliknya.

Tulisan ini adalah pengingat untuk diri saya sendiri.

Saya pun bisa terpengaruh.

Saya pun bisa salah.

Saya pun bisa terlalu terbiasa.

Karena itu saya harus terus belajar.

Terus membaca.

Terus memperbaiki diri.

Terus bertanya:

“Apakah saya masih berada di jalan yang benar?”

Sebab manusia bisa tersesat bukan hanya karena memilih jalan yang salah.

Kadang-kadang kita tersesat karena terlalu lama berjalan tanpa pernah memeriksa arah.

Pertanyaan yang Perlu Kita Bawa Pulang

Mungkin setelah membaca tulisan ini, kita tidak perlu langsung mengubah dunia.

Mulailah dengan bertanya kepada diri sendiri.

Apa yang selama ini saya anggap biasa, tetapi sebenarnya tidak baik?

Apa yang saya biarkan anak-anak saya lihat berulang kali?

Apa yang saya bagikan di media sosial?

Apa yang saya tertawakan?

Apa yang saya dukung?

Apa yang saya toleransi?

Dan satu pertanyaan yang mungkin paling penting:

“Jika anak saya meniru apa yang saya lakukan hari ini, apakah saya akan bangga?”

Jika jawabannya tidak,

mungkin sudah waktunya kita berhenti.

Bukan karena kita ingin menjadi manusia sempurna.

Tetapi karena kita ingin menjadi manusia yang sadar.

Jangan Normalisasi yang Salah

Dunia akan terus berubah.

Teknologi akan terus berkembang.

Tren akan terus berganti.

Apa yang hari ini dianggap aneh mungkin besok dianggap biasa.

Tetapi kita tetap memiliki pilihan.

Kita bisa memilih apa yang kita lihat.

Apa yang kita dengarkan.

Apa yang kita bagikan.

Apa yang kita ajarkan.

Apa yang kita dukung.

Dan yang paling penting:

Apa yang kita pertahankan dalam hati.

Jangan biarkan sesuatu menjadi benar hanya karena terlalu sering dilakukan.

Jangan biarkan dosa kehilangan namanya karena terlalu sering dilihat.

Jangan biarkan hati kehilangan rasa karena lingkungan sudah kehilangan batas.

Allah berfirman:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”

— QS. Al-Ma'idah: 2.

Ayat ini mengingatkan kita bahwa kita bukan hanya bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan.

Kita juga perlu berhati-hati agar tidak menjadi bagian dari sesuatu yang membuat keburukan semakin kuat—dengan menyebarkannya, membenarkannya, menertawakannya, atau memberinya panggung.

Sebuah Pesan dari Seorang Ibu dan Guru

Saya tidak tahu dunia seperti apa yang akan dihadapi anak-anak saya dua puluh tahun dari sekarang.

Saya tidak tahu teknologi apa yang akan mereka gunakan.

Saya tidak tahu pekerjaan apa yang akan mereka jalani.

Saya tidak tahu perubahan sosial seperti apa yang akan mereka hadapi.

Tetapi ada satu hal yang saya harapkan tetap mereka miliki:

integritas.

Ketika tidak ada yang melihat, mereka tetap jujur.

Ketika semua orang melakukan kesalahan, mereka berani mengatakan tidak.

Ketika sesuatu menjadi tren tetapi bertentangan dengan nilai, mereka mampu berkata:

“Saya tidak harus ikut hanya karena semua orang ikut.”

Dan ketika dunia mengatakan:

“Sudahlah. Itu sudah biasa.”

Semoga mereka masih memiliki keberanian untuk bertanya:

“ Tetapi apakah itu benar?”

Karena saya percaya, pendidikan terbaik bukan hanya membuat anak kita pintar menghadapi dunia.

Pendidikan terbaik adalah membuat mereka cukup kuat untuk tidak kehilangan dirinya ketika menghadapi dunia.

Dan mungkin, itulah alasan kita harus terus belajar.

Bukan hanya agar kita menjadi lebih pintar.

Tetapi agar kita menjadi lebih sadar.

Bukan hanya agar kita memiliki lebih banyak pengetahuan.

Tetapi agar kita memiliki lebih banyak kebijaksanaan.

Bukan hanya agar kita bisa mengajarkan anak-anak.

Tetapi agar kita menjadi teladan yang layak mereka ikuti.

Saya tidak ingin anak-anak saya mewarisi dunia yang sempurna.

Saya hanya ingin ikut memastikan bahwa mereka mewarisi nilai-nilai yang masih layak diperjuangkan.

Karena pada akhirnya:

“Yang salah tetap salah, meskipun sudah terlalu sering dilakukan.

Yang benar tetap benar, meskipun tidak selalu populer.”

Dan kalau kita harus berbeda untuk mempertahankan kebenaran,

semoga kita cukup berani untuk berbeda.

Bukan untuk merasa lebih baik daripada orang lain.

Tetapi untuk menjaga diri, menjaga keluarga, menjaga anak-anak, menjaga sekolah, dan menjaga masyarakat agar tidak kehilangan arah.

Jangan ikut menormalisasikan yang salah.

Karena sesuatu yang kita anggap kecil hari ini,

bisa menjadi budaya yang diwariskan kepada anak-anak kita esok hari.

Referensi yang Digunakan

Penelitian dan buku

1. Prentice, D. A., & Miller, D. T. (1993). Pluralistic Ignorance and Alcohol Use on Campus: Some Consequences of Misperceiving the Social Norm. Journal of Personality and Social Psychology, 64(2), 243–256.

2. Bandura, A. (1986). Social Foundations of Thought and Action: A Social Cognitive Theory. Prentice-Hall.

3. Bandura, A. (1990). Selective Activation and Disengagement of Moral Control. Journal of Social Issues, 46(1), 27–46.

4. Cialdini, R. B., Reno, R. R., & Kallgren, C. A. (1990). A Focus Theory of Normative Conduct: Recycling the Concept of Norms to Reduce Littering in Public Places. Journal of Personality and Social Psychology, 58(6), 1015–1026.

5. Young, H. P. (2015). The Evolution of Social Norms. Annual Review of Economics, 7, 359–387.

Data integritas

6. Komisi Pemberantasan Korupsi. (2025). Hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) 2024.

7. Komisi Pemberantasan Korupsi. (2025). Temuan SPI 2024: Suap dan Gratifikasi Masih Terjadi di Lebih dari 90% Kementerian/Lembaga & Pemerintah Daerah.

Al-Qur'an

8. QS. Al-Anfal: 8 — tentang peneguhan yang hak dan penghilangan yang batil.

9. QS. Al-An'am: 116 — tentang tidak menjadikan mayoritas sebagai ukuran mutlak kebenaran.

10. QS. Al-Isra': 32 — tentang larangan mendekati zina.

11. QS. Al-Ma'idah: 2 — tentang tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa serta tidak saling membantu dalam dosa dan permusuhan.



Bagikan:

Karya Guru Lainnya