Lewati ke konten utama
Logo Yayasan Roudlotul Qur'an

Langkah Diatas Canvas Tua

Langkah Diatas Canvas Tua
Karya Siswa Safwan Zio Ramadhan — 7C Karya Tulis 2026 9x dilihat

LANGKAH DI ATAS KANVAS TUA


Cerpen


Suara derit kuas yang menari di atas kanvas lalu menjadi musik tunggal di kamar berukuran tiga kali empat meter itu. Bau cat minyak yang menyengat tak sedikit pun mengganggu fokus Rian. Di bawah pendaran temaram lampu lima watt, ia mencoba merekam sisa-sisa kenangan tentang garis pantai desa kelahirannya sebelum memudar sepenuhnya dari ingatan.


“Kamu masih percaya lukisan ini bisa membayarkan semua kontrakan bulan depan?”


Suara berat Danu memecah keheningan. Ia bersandar di ambang pintu, melepas sepatu buat usang yang belum benar-benar kering. Wajahnya muram, lengannya itu tampak begitu lelah. Kerja keras belakangan ini di proyek pembangunan gedung bertingkat telah mengikis separuh dari semangat mudanya.


Rian meletakkan palet catnya, lalu tersenyum tipis. “Bukan tentang sewa kontrakan, Nu. Ini tentang janji kita lima tahun lalu.”


Danu terkekeh sinis, lalu berjalan mendekati meja kayu tempat dua cangkir kopi dingin berdebu berdiri. “Janji? Tidak bisa dibelikan beras, Yan. Pameran seni disebut kota itu butuh biaya pendaftaran. Kita bahkan bingung besok mau apa kalau jatuh lagi.”


Rian membisu. Ia tahu Danu benar. Sejak datang ke kota ini dengan modal nekat dan sejuta mimpi, realitas terus-menerus memukuli mereka. Danu mengorbankan impiannya menjadi fotografer demi bekerja kasar untuk menyangga kehidupan mereka berdua, sementara Rian terus bergelut dengan warna-warna yang tak kunjung menghasilkan rupiah.


“Pendaftaran ditutup besok,” kata Danu pelan, nadanya melemah. Ia memegang pundak Rian yang mau kuas. “Aku cuma tidak mau kamu terus menggantungkan hidup pada hal yang belum pasti. Mungkin sudah waktunya kita cari pekerjaan yang benar.”


Malam itu, Rian tidak bisa tidur. Ia memandangi lemari dan yang kusam dan tumpukan surat tidak terlelap di sudut ruangan.


---


Keesokan harinya, Rian memutuskan untuk mengemas semua alat lukisnya ke dalam kardus. Ia berjalan ke pasar untuk menjual kuas, berlari mencari pekerjaan sebagai kuli panggul, dengan harapan berat, seolah-olah setiap penolakan menimbulkan serpihan jiwanya sendiri.


Namun, ketika ia kembali ke kontrakan pada sore hari dengan baju yang penuh debu dan uang seribu di genggaman, ia mendapati pintu rumah terbuka lebar.


Di dalam, Danu sedang berdiri memandangi kanvas Rian yang sudah bersih dari debu. Di atas meja kayu, tergeletak selembar kertas tanda bukti pembayaran bermaterai.


“Apa ini, Nu?” Rian melangkah mendekat, matanya melebar membaca tulisan di lembaran tersebut: Bukti Pembayaran Biaya Pendaftaran Pameran Seni Rupa Antar-Komunitas.


Danu membalikkan badan. Kamera DSLR itu milik Danu sendiri, satu-satunya barang berharga yang tersisa dari kenangan masa lalu, kini telah terlihat di atas lemari.


“Kamera itu?” suara Rian tercekat.


“Kamera itu cuma menyimpan gambar masa lalu, Yan,” petuah Danu dengan senyum getir yang sudah lama tak Rian lihat. “Tapi lukisanmu punya masa depan. Aku tidak bisa mengambil gambar lagi, tapi kamu masih bisa melukis puluhan karya.”


“Tapi kamu tidak perlu menjual barang paling berharga, Nu! Nu!” Suara Rian, matanya berkaca-kaca, lantas dibelit keheningan.


Danu menatap Rian dengan mantap. “Barang paling berharga bukanlah melihat salah satu dari kita berhasil mencambah tembok lama. Bangsa ini... selesaikan lukisan pantai itu. Buat warna merah matahari yang begitu terang sampai semua orang di pameran itu sadar, kita tidak datang ke sini cuma untuk jadi pelengkap keadaan.”


Rian tak mampu menahan air matanya lagi. Tanpa kata-kata, ia menggulung lengan bajunya, mengambil kembali kuas terbaiknya, dan mencelupkannya ke warna jingga yang paling menyala.


Di kamar sempit itu, di tengah himpitan kemiskinan dan ketidakpastian, dua sahabat itu tidak sedang melukis di atas kain, mereka sedang mengukir takdir.


Pesan moral: Sahabat sejati bukan mereka yang selalu memuji, melainkan mereka yang rela berkorban agar impian bersama tidak padam.


Bagikan:

Karya Siswa Lainnya