Elok 7B
PENERIMA PAKET VERTU
Hujan baru saja berhenti ketika motor kurir itu berhenti di depan rumah Saka. Paket kecil berwarna hitam itu basah di ujungnya. Saka sudah tiga hari menunggu paket seharga tiga puluh ribu itu. Ia sudah menyiapkan diri untuk kecewa. Ia tanda tangan, dan membawa paket itu masuk.
Di dalam kamarnya yang sempit ia membuka kardus dengan gunting dapur. Tidak ada iPhone. Yang ada hanyalah kotak hitam yang berat, dengan tulisan mengilap di atasnya: VERTU. Warna oren dan hitam. Saka mengerutkan kening. Ia tidak pernah mendengar merek itu.
Ia mencoba menyalakan. Tidak ada tombol yang jelas. Hanya satu tombol buat kecil di samping. Ia tekan lama. Layarnya tidak menyala, tapi justru bergetar pelan dan mengeluarkan suara "klik". Bagian belakang ponsel terbuka sendiri sedikit, bukan tempat baterai. Di dalamnya ada selembar kertas yang dilipat sangat kecil, dan sebuah kunci besi kecil yang sudah berkarat.
Saka mengambil kertas itu. Tulisan tangan: "Jika kamu menemukan ini, berarti toko sudah tutup. Jangan jual HP ini. Bawa kunci ini ke alamat di bawah, gudang nomor 7, Pasar Loak Lama."
Saka berpikir ini prank. Tapi penasaran lebih besar daripada logika. Pasar loak lama berjarak dua puluh menit perjalanan dari rumahnya. Ia memasukkan kunci itu ke saku jaket dan membawa ponsel oren hitam itu.
Pasar itu sepi. Banyak kios sudah tutup sejak tahun lalu. Gudang nomor 7 adalah sebuah pintu besar bergelombang yang tertutup rapat. Tidak ada gembok, hanya sebuah lubang kunci yang aneh bentuknya. Bulat dengan tiga gerigi. Saka menggosok saku. Kunci dari dalam handphone itu pas. Terlalu pas. "Cklek."
Pintu terbuka. Bau debu dan kertas menyeruak. Di dalamnya bukan barang rongsokan, melainkan ratusan kotak handphone. Semua tertumpuk rapi, dari lantai sampai langit-langit. Semua merek yang tidak pernah ia dengar. Ada yang warna oren hitam seperti miliknya, ada yang biru, ada yang transparan.
Di tengah gudang, ada seorang kakek tua yang sedang duduk memperbaiki handphone dengan kaca pembesar.
"Akhirnya ada yang datang," kata kakek itu tanpa menoleh.
Saka kaget. "Kakek ... yang jual handphone tiga puluh ribu itu?"
Kakek itu tertawa. "Bukan jual. Saya menyebar satu kota satu handphone. Sudah dua tahun saya kirim acak."
"Buat apa?"
Kakek itu melepas kaca pembesarnya. "Dulu saya punya pabrik casing handphone. Bangkrut karena semua orang cuma mau merek yang sama: iPhone, Samsung, Infinix, Realme, dll. Padahal HP itu harusnya menyenangkan, harusnya warnanya macam-macam, bentuknya aneh-aneh. Makanya saya bikin merek palsu ini. Vertu, Berry, Oddo. Saya sebar murah supaya orang kaget, supaya orang bertanya, 'Ini handphone apa, ya?'"
Saka menatap handphone di tangannya. "Jadi, ini memang bukan iPhone?"
"Bukan. Dan tidak perlu jadi iPhone."
Jawab kakek itu, "coba nyalakan lagi, tekan tombol dua kali cepat." Aaka melakukanya,Kali ini layarnya menyala, bukan android, bukan iphone,layarnya hitam polos hanya ada satu tulisan besar warnanya oren: TERIMA KASIH TELAH MAU PENASARAN.
Setelah itu muncul permainan Tetris sederhana. Sak a Tertawa untuk pertama kalinya pada hari itu, bukan karena kecewa tapi karena geli, jadi kerjaanya cuma main Tetris? dan jadi milikmu sepenuhnya. Tidak ada handphone yang sama persis di kota ini," kata kakek itu. "Kalau rusak, bawa ke sini. Jangan dibawa ke konter biasa."
Saka keluar dari gudang dengan perasaan aneh. Ia gagal mendapat HP impiannya, tapi ia pulang dengan sebuah cerita yang tidak dimiliki oleh teman-temannya. Di saku lainnya, kunci karatan. Di tangan kanannya handphone oren yang hanya bisa main Tetris.
Sesampainya di rumah, ia meletakkan handphone itu di meja belajar. Ia tidak langsung memotret untuk status. Ia hanya memainkannya sampai baterainya habis.
Di luar, langit Surabaya yang habis hujan terlihat sangat jernih. Dan untuk pertama kalinya, Saka tidak merasa rugi telah membeli paket tiga puluh ribu itu.