Mereka Memiliki Cara Berbeda untuk Bersinar
Memasuki kelas yang dipenuhi siswa laki-laki “Superaktif” mungkin menjadi hal yang kurang menyenangkan. Bahkan sebelum membuka pintu kelas, bayangan tentang suara yang riuh, siswa yang sulit diam, hingga perhatian yang mudah teralihkan sudah cukup membuat energi terkuras.
Di dalam kelas, guru berusaha menyampaikan materi sebaik mungkin. Namun, ada yang memilih asyik ngobrol dengan temannya, ada pula yang sibuk memainkan apa pun yang ada di tangannya. Seolah-olah semua usaha yang dilakukan guru tidak pernah benar-benar sampai kepada mereka.
Lalu..
Haruskah guru marah?
Haruskah guru menyerah dan meninggalkan mereka?
Tentu saja TIDAK.
Semakin lama memahami mereka, semakin kita menyadari bahwa anak-anak ini bukan tidak mampu. Mereka hanya tidak selalu menunjukkan kemampuannya dengan cara yang selama ini kita anggap sebagai ukuran keberhasilan.
Mungkin mereka bukan siswa yang paling cepat memahami konsep IPA atau paling mahir menyelesaikan soal matematika. Nilai mereka mungkin tidak selalu berada di deretan teratas. Namun, mereka adalah anak-anak yang paling dulu menyapa guru dengan senyum tulus setiap kali bertemu. Mereka adalah siswa yang tanpa diminta langsung mengangkat kursi ketika guru membutuhkan bantuan. Mereka yang paling sigap memindahkan meja, paling berani mencoba saat praktikum, paling antusias saat diberi tantangan, dan paling cepat berdiri ketika melihat gurunya membawa banyak barang.
Hal-hal kecil seperti itu sering kali luput dari perhatian kita.
Karena kita terlalu sibuk menghitung angka rapor, sampai lupa menghargai angka-angka lain yang tidak pernah tercetak: ketulusan, kepedulian, keberanian dan tawadhu’.
Bukankah itu juga bentuk kecerdasan?
Tidak semua anak akan menjadi fisikawan atau pun matematikawan. Yang terpenting adalah setiap anak menemukan tempat di mana kelebihannya dapat tumbuh. Karena sesungguhnya, tugas guru bukan menciptakan semua murid menjadi sama. Tugas guru adalah membantu setiap murid menemukan versi terbaik dari dirinya. Karena tidak ada anak yang lahir tanpa keistimewaan.
Bukan berarti guru harus menerima begitu saja semua perilaku siswa. Justru sebaliknya, disiplin tetap perlu ditegakkan. Namun, disiplin akan jauh lebih bermakna ketika dibangun di atas pemahaman, bukan sekedar kemarahan. Sebab setiap anak berhak dididik, dan setiap guru memiliki kesempatan untuk menjadi orang yang menemukan keistimewaan yang mungkin belum pernah dilihat orang lain.