Ruang Bernama Kelas
Katanya, guru kepala hanya satu.
Padahal di dalamnya bertasbih ribuan semesta.
Kelas ini bukan sekadar ruang.
Ia panggung.
Tempat hidup dipertunjukkan tanpa naskah,
tempat luka dan tawa bergantian menempati bangku yang sama.
Di sini aku belajar melihat.
Melihat persahabatan yang tumbuh dari sisa penghapus dan rebutan pensil,
lalu menjelma menjadi bekal yang dibagi diam-diam di jam istirahat.
Melihat konflik kecil yang meledak karena kata yang tak sengaja,
lalu mereda menjadi pelukan dan kata: "maaf ya."
Aku menyaksikan air mata jatuh tanpa suara
ketika nilai tak berpihak,
ketika nama tak disebut,
ketika dunia terasa terlalu besar untuk tubuh sekecil itu.
Dan aku juga menyaksikan cahaya.
Cahaya di mata yang pertama kali mengeja,
tepuk tangan untuk piala pertama,
dan tawa yang pecah karena lelucon paling sederhana.
Di ruangan ini, manusia-manusia kecil sedang bertumbuh.
Menjahit jati dirinya dari potongan hari.
Mereka belajar hal yang tak pernah ditulis di RPP:
Belajar menerima perbedaan,
walau kulit berbeda warna, walau mimpi berbeda rupa,
tapi tetap mau duduk berdampingan.
Belajar mengartikulasikan rasa,
walau lidah masih gagap,
walau adanya hanya coretan di pinggir buku.
Belajar berdamai,
dengan keterbatasannya,
dengan keterbatasan orang lain,
dengan dunia yang belum tentu adil.
Lalu aku?
Aku hanya guru kepala.
Bukan pemilik semesta ini.
Hanya saksi yang dititipi untuk melihat,
penonton yang ditugasi untuk sabar,
sutradara yang kadang hanya bisa diam, merangkul,
dan percaya bahwa waktu akan mengajari sisanya.
Karena dari kelas kecil ini,
dari bangku kayu yang tergores nama,
dari papan tulis yang dihapus berkali-kali,
akan lahir semesta-semesta baru.
Yang suatu hari nanti,
mungkin akan mengingatku...
bukan karena pelajaranku,
tapi karena pernah ada yang percaya pada mereka. Catatan sederhana namu penuh makna....Nur Wulidatul Fitria, M.Pd