Lewati ke konten utama
Logo Yayasan Roudlotul Qur'an

Wali Kelas : Tentang hati yang dibagi

Wali Kelas : Tentang hati yang dibagi
Karya Guru Sandrina Rosi,S.Pd — Guru Bahasa Inggris,S.Pd Karya Tulis 2026 5x dilihat

Wali Kelas: Tentang Hati yang Dibagi

Oleh: Sandrina Rosi

 

Menjadi wali kelas bukan sekadar menerima amanah untuk mendampingi satu ruang penuh siswa. Menjadi wali kelas adalah tentang membagi hati—antara keluarga di rumah dan keluarga kecil yang menunggu di sekolah.

 

Setiap pagi, ada langkah yang meninggalkan rumah dengan doa yang sama: semoga anak-anak yang ditinggalkan maupun anak-anak yang dituju sama-sama berada dalam lindungan Allah.

 

Tak sedikit wali kelas yang harus berpamitan kepada anak kandungnya sendiri, bahkan sebelum mereka benar-benar ingin berpisah. Ada pelukan yang ditunda, ada sarapan yang belum sempat dinikmati bersama, ada cerita yang harus menunggu hingga senja. Semua itu demi hadir lebih awal untuk menyambut puluhan anak lain yang juga membutuhkan perhatian, bimbingan, dan kasih sayang.

 

Di ruang kelas, ia menjadi pendengar bagi mereka yang sedang terluka. Menjadi penyemangat bagi yang hampir menyerah. Menjadi penengah ketika perselisihan terjadi. Menjadi pengingat ketika ada yang mulai kehilangan arah. Kadang ia harus menjadi guru, orang tua, sahabat, bahkan tempat bersandar, meski di dalam hatinya sendiri mungkin sedang menyimpan lelah yang tak pernah sempat diceritakan.

 

Tegurannya lahir dari kepedulian. Diamnya sering kali adalah bentuk kesabaran. Doanya mengalir tanpa diketahui siapa pun. Nama-nama siswa disebut satu per satu dalam harapan yang dipanjatkan, agar kelak mereka tumbuh menjadi manusia yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat.

 

Tidak ada tepuk tangan setiap kali ia mengorbankan waktunya. Tidak ada panggung ketika ia memilih mendahulukan kebutuhan murid-muridnya daripada kepentingan pribadinya. Namun Allah adalah sebaik-baik saksi atas setiap langkah yang diikhlaskan.

 

Barangkali suatu hari nanti, para siswa akan melupakan jadwal pelajaran, rumus-rumus, atau tugas yang pernah diberikan. Namun semoga mereka tidak pernah lupa bahwa pernah ada seseorang yang mencintai mereka dengan tulus, yang rela menghabiskan tenaga, pikiran, bahkan waktu bersama anak kandungnya sendiri demi memastikan mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

 

Sebab menjadi wali kelas bukan hanya tentang mengajar. Menjadi wali kelas adalah tentang mencintai tanpa harus memiliki, mendoakan tanpa diminta, menguatkan tanpa berharap balasan, dan menanam kebaikan yang buahnya mungkin baru akan dipetik bertahun-tahun kemudian.

 

Dan ketika kelak semua murid telah menemukan jalannya masing-masing, mungkin hanya satu doa sederhana yang tersisa di hati seorang wali kelas:

 

*"Ya Allah, jika suatu saat mereka lupa namaku, jangan biarkan mereka lupa nilai-nilai kebaikan yang pernah kutanamkan. Cukuplah Engkau menjadi saksi bahwa aku pernah berusaha mencintai mereka sebagaimana aku mencintai anakku sendiri."*


Bagikan:

Karya Guru Lainnya